Tradisi Fua Pah dan Fua Ton, Masyarakat Bikomi Utara Memohon Berkat

Berita-Cendana.com-Kefamenanu,- Masyarakat Desa Napan. Kecamatan  Bikomi Utara Pada Umumnya Memiliki Satu Tradisi  dan Kepercayaan Terhadap Alam, Leluhur Demi Curah Hujan dan Berkat yang Berkecukupan Selama Satu Tahun Dengan Istila Fua Pah dan Fua Ton.


Fua pah atau fua ton adalah salah satu tradisi yang diwariskan oleh leluhur, dan yang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Desa Napan, Kec. Bikomi Utara Kabupaten TTU. 


"Kata Fua Pah berasal dari dua kata, yakni Fua dan Pah. Fua yang berati menyembah atau penghormatan dan Pah yang artinya tanah, bumi dan alam. Dari rangkaian kata tersebut, fua pah dapat diartikan sebagai tanda penyembahan atau penghormatan terhadap tuan tanah, para leluhur dan alam".


Martinus Taeki, selaku tua adat Desa Napan, dan Desa Tes saat di wawancara media ini, Jumat, 27/11/2020 ia menjelaskan bahwa, hal ini bukan berarti masyarakat setempat menyembah dua Tuhan atau menyembah berhala, namun ini sudah menjadi tradisi, yang  diwariskan oleh nenek moyang kami sebagai tanda penghargaan terhadap Alam, Leluhur dan Uis Naijan.


"Acara ini biasanya dilakukan pada saat menjelang musim hujan dan musim tanam dengan tujuan untuk meminta kepada para leluhur dan Uis Naijan agar hasil panen yang akan diperoleh masyarakat selama satu tahun bisa dapat memuaskan dengan curah hujan yang bagus pula agar dapat mengairi tanaman yang akan ditanam hingga  panen tiba".


Lanjutnya, Masyarakat  yang dipimpin langsung oleh beberapa para tua adat seperti tokoh adat dari Siki, Eko, Nule, Kolo, Kefi, Kaet dan beberapa tokoh adat lainnya, dan kami wajibkan kepada masing-masing masyarakat untuk membawa hewan agar di sembelih. Dan masyarakat yang dipimpin tokoh adat akan diarahkan masuk ke “Fatu Napan” untuk melakukan ritual adat, dan akan bermalam disana hingga acara selesai.


Selain itu juga, selama berada di dalam hutan adat Fatu Napan, masyarakat juga akan dihibur dengan beberapa tarian seperti tarian gong dan bonet yang juga merupakan tarian dari daerah tersebut. Sambil menunggu acara inti, untuk semua hewan yang dibawah oleh masyarakat  disembelih. Ungkap Martinus.


Namun, sebelum penyembelihan dimulai terlebih dahulu kita akan mengawali dengan ritual dari para tua adat, dengan harapan agar curah hujan dan hasil panen melimpah. Dan untuk bisa mengetahui baik, buruk serta hasil panen yang akan diperoleh masyarakat setempat, maka para tua adat memiliki satu keunikan tersendiri untuk bisa mengetahui dengan cara dan kepercayaan yang unik pula dengan melihat pada hati hewan yang sudah di

sembelih atau yang biasa dikenal dengan istilah “Tae Lilo".


Namun sebelum acara Tae Lilo, terlebih dahulu tua adat akan menghimbau kepada masyarakat agar  masyarakat berdoa dengan harapan yang sama pula agar curah hujan dalam tahun ini cukup untuk mengairi tanaman yang akan ditanam serta hasil panen yang akan diperoleh juga dapat memuaskan. 


Saya juga berharap khusus bagi kaum muda-mudi agar biasa turut hadir di setiap acara seperti ini agar apa yang sudah diwariskan dari leluhur kita tidak akan musna, namun akan terus dilestarikan sampai kapan pun. Tutunya.(Joey Baptista).

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Subscribe Us

Responsive Ad Slot