Berita-Cendana.Com- TTS, - Lomba cerita Paskah bahasa dawan antar rayon GMIT Yunus Nunumeu 2026, upaya melestarikan budaya di tengah arus modernisasi. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Kebaktian Yunus Nunumeu pada Minggu, 3 Mei 2026.
Demikian disampaikan langsung oleh Ketua Panitia, Ferdinand Isu kepada tim wartawan di bilangan Kota Soe, pada Selasa, 6 Mei 2026.
GMIT Yunus Nunumeu menggelar lomba cerita paskah dalam bahasa dawan antar rayon sebagai bagian dari rangkaian perayaan Paskah tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kebaktian GMIT Yunus Nunumeu, diikuti oleh 19 peserta dari berbagai rayon dan berlangsung dengan penuh antusias.
Ketua Panitia, Ferdinand Isu, mengungkapkan bahwa jumlah peserta tersebut menjadi langkah awal yang cukup menggembirakan. Menurutnya, keikutsertaan anak-anak dalam kegiatan ini menunjukkan adanya kesadaran untuk menjaga dan melestarikan budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.
“Keinginan untuk terlibat saja sudah merupakan langkah positif dari anak-anak. Di tengah era modern ini, budaya mulai terpinggirkan. Karena itu, kegiatan ini menjadi momen penting untuk mengingatkan generasi muda agar memahami jati diri mereka, di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ferdinand menilai bahwa jika para peserta mendapatkan pendampingan yang baik, dalam dua tahun ke depan mereka berpotensi menjadi motivator bagi generasi berikutnya, bahkan dapat berkembang menjadi duta budaya di tingkat yang lebih luas, tidak hanya di lingkungan gereja.
Sementara itu, Ketua Majelis GMIT Yunus Nunumeu, Pdt. Elfis L. Y. Lenamah, M.Th., memberikan apresiasi kepada seluruh panitia, pengajar PART, serta anak-anak yang telah menggagas dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa lomba ini menjadi salah satu jawaban atas tantangan zaman yang berpotensi menjauhkan generasi muda dari bahasa dan budaya ibu mereka.
“Kegiatan ini sangat membantu kita dalam menghadapi tantangan kemajuan yang bisa mengasingkan anak-anak dari identitas budaya mereka. Gereja memiliki peran penting untuk terus menghadirkan ruang-ruang kreatif seperti ini,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga dilaksanakan bertepatan dengan Bulan Budaya dan Bahasa GMIT serta menjadi bagian dari perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Hal ini semakin memperkuat makna kegiatan sebagai upaya kolaboratif antara gereja dan dunia pendidikan dalam membangun kesadaran budaya bagi generasi muda.
Adapun dewan juri dalam lomba ini terdiri dari Dr. Margarita D. I. Ottu, M.Pd, Anderias Nenokeba, S.Pd, dan Pdt. Elfis L. Y. Lenamah. Setelah melalui proses penilaian, berikut para pemenang lomba:
Juara 1: Teresia A. Selan (Rayon Getsemani), Total skor 93,25
Juara 2: Jeni Tobe (Rayon Bethania) , Total skor 92,83
Juara 3: Jesika Mone (Rayon Getsemani) , Total skor 92
Harapan 1: Felisyane Tamonob (Rayon Sinai) , Total skor 90,33
Harapan 2: Ivana Litelnoni (Rayon Sinai) , Total skor 84,58
Harapan 3: Aprilia Kase (Rayon Nekhalan) , Total skor 84,25
Melalui kegiatan ini, diharapkan upaya pelestarian budaya dan bahasa daerah terus dikembangkan sebagai bagian dari pelayanan gereja, sekaligus menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda yang berakar pada nilai-nilai budaya dan iman.(*).

Posting Komentar