Berita-Cendana.Com- Kupang,- Momentum wisuda yang penuh kebahagiaan ini, Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) UPG 1945 NTT, Dr. Semuel Haning, SH., MH., menyampaikan cerita perjuangan yang menyentuh hati tentang bagaimana lembaga ini lahir dari keterbatasan, tumbuh dari keteguhan, dan berdiri tegak berkat kerja keras dan kesetiaan banyak pihak.
Demikian disampaikan oleh Ketua BPH UPG NTT Dr. Semuel Haning, SH., M.H., C.Me saat Wisuda Sarjana ke-10 di Hotel Harper Kupang pada Rabu, 9 September 2026.
"Tahun 2010 saya menjadi Rektor. Saat itu Universitas PGRI tidak memiliki gedung sendiri. Semua ruang disewa, termasuk tiga tempat yang berbeda, bahkan tempat itu penuh tikus. Siapa yang percaya lembaga ini bisa bertahan? Tapi saya berkata, Saya tidak akan membiarkan lembaga ini mati pelan-pelan."
Dr. Semuel mengenang masa-masa paling sulit. “Tidak ada gedung, tidak ada lahan, tidak ada dana. Namun ia percaya Lembaga ini akan berkembang apabila ada perubahan dari diri kita sendiri. Ketika kita berubah, masyarakat akan percaya kepada kita”.
Ia mengumpulkan orang-orang yang bertekad kuat, bukan sekadar orang pintar tetapi orang-orang yang punya ide cemerlang dan hati yang tulus. Bersama teman-teman, ia bertekad mencari tanah, membangun kampus, dan meletakkan fondasi tempat berdiri saat ini.
"Orang bilang 'Nona itu waktu masih kecil belum dilirik orang. Kalau sudah jadi gadis, semua mau apalagi sudah mengkilap wajahnya.' Itulah UPG 1945 NTT. Dulu tidak dilirik, kini orang datang bahkan ada yang ingin mengambil alih dengan cara-cara yang tidak santun. Tapi kami bertahan. Tidak ada satupun yang berhasil meruntuhkan perjuangan kita”.
Perjuangan tidak berhenti di bangunan. Ada masa-masa sulit ketika lembaga ini harus menghadapi proses perubahan status dan pengakuan pemerintah. Bahkan pernah terjadi ketegangan yang memaksa pengurus menghadapi risiko pencabutan izin.
"Pemerintah memanggil, meminta kami mencabut perkara. Saya tidak pergi. Saya berkata, kalau perlu, biarlah saya yang menemui Presiden waktu itu Pak Jokowi."
Hingga akhirnya pada 6 Juni, kesepakatan dicapai. Seluruh administrasi, ijazah, dan pengakuan negara dipastikan. Universitas PGRI resmi berubah menjadi Universitas Persatuan Guru 1945 NTT. Sebuah nama yang lahir dari kerja keras luar biasa, pendataan ulang, dan migrasi seluruh data mahasiswa, pekerjaan yang sangat berat namun berhasil diselesaikan bersama.
Dr. Semuel dengan haru menyebutkan nama-nama yang tak boleh dilupakan mereka yang hadir saat masa sulit.
"Ada orang-orang yang setia saat kita dalam kesulitan. Salah satunya adalah Dr. Jhony Asadoma, dan Viktor Bungtilu Laiskodat. Mereka hadir saat kita belum punya apa-apa. Simpan nama mereka di dada dan di hati kalian. Jangan pernah lupa. Selain itu, para Pelaku Sejarah adalah Rektor Ully Riwu Kaho dan juga David Selan".
Kepada Bupati Kupang yang hadir pada kesempatan itu, beliau juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya, sekaligus mengingatkan bahwa kehadiran alumni di pemerintahan adalah bukti nyata kontribusi lembaga ini bagi daerah.
"Hari ini tanggal 9 bulan 9 tahun 2026. Tanggal 9 bulan 9 tahun 2006, 20 tahun lalu saya juga merayakan hal yang sama. Hari ini adalah hari berkah. Umur boleh bertambah, rambut boleh memutih, tapi semangat ini tetap menyala. Orang bilang usia 92 tahun tapi semangatnya masih 26 tahun!"
Pesan Khusus untuk Para Wisudawan dan Alumni, Kepada para wisudawan, Dr. Semuel menyampaikan pesan yang mendalam. Jangan minder menjadi alumni UPG 1945 NTT. Kita mungkin lahir dari desa, dari keluarga sederhana, dari daerah yang belum ramai tapi itu bukan alasan untuk rendah diri.
Jangan tanya "saya berasal dari mana", tetapi tanya "saya mau menuju ke mana". Asal-usul tidak menentukan masa depan, tekad dan kerja keraslah yang menentukan. NTT membutuhkan kalian bukan sekadar sarjana yang mencari kerja, tetapi pencipta pekerjaan, inovator, dan pemikir yang membawa solusi.
Jadilah orang yang membawa solusi, bukan sekadar membawa masalah. Jangan lupa orang tua, guru, dan semua yang telah membimbing kalian. Kesuksesan kalian adalah kebanggaan mereka juga.
"Kita sederhana, tapi kita tidak rendah. Kita lahir dari keterbatasan, tapi kita mampu melampaui keterbatasan itu. Tetaplah rendah hati, tetaplah bekerja keras, dan tetaplah membawa nama almamater kemanapun kalian pergi."
"Jalan panjang belum selesai. Apa yang kami bangun, sekarang kalian lanjutkan. Kalian adalah generasi yang meneruskan obor perjuangan ini. Jadilah pembawa perubahan, bukan penonton perubahan. Dan ingat jangan pernah melupakan sejarah, karena orang yang melupakan sejarah kehilangan arah."(*).
