Berita-Cendana.Com- Kupang,- Joseph Leonard Kale, S.T., M.Si., Ketua Forum Kupang Green and Clean sekaligus Sekretaris Dinas Kominfo Kota Kupang, memaparkan pengalaman sukses sekaligus tantangan pengelolaan Bank Sampah di Kelurahan Liliba dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah Kecamatan Alak. Selasa, 20 Oktober 2026.
Joseph membagikan pengalaman nyata dari Bank Sampah Liliba yang mulai bergerak sejak 20 Juni 2026. Hingga saat ini, sudah terkumpul 3,2 ton sampah bernilai ekonomi dengan 214 nasabah aktif.
"Ini bukan sekadar membuang sampah, tetapi sampah yang dikelola dengan baik justru menghasilkan nilai ekonomi. Kertas, rak telur, botol plastik, kaleng semuanya ada harganya jika dipilah dengan benar," jelasnya.
Data menunjukkan bahwa dari total sampah yang disetorkan nasabah, kertas menempati urutan terbanyak, disusul sampah plastik. Hasil penjualan sampah terpilah ke pengepul seperti ke Mutiara Timur telah menghasilkan pendapatan yang nyata bagi nasabah.
Poin paling penting yang ditekankan Pak Josef "Sampah itu tanggung jawab kita, bukan orang lain. Kalau kita anggap itu tanggung jawab orang lain, tempat kita tetap kotor. Kalau kita sadar itu tanggung jawab kita, pasti kita kelola dengan baik."
Ia mengingatkan bahwa jika semua sampah langsung dikirim ke TPA tanpa dipilah, maka volume yang menumpuk akan terus bertambah dan menimbulkan risiko seperti kebakaran TPA yang pernah terjadi sebelumnya karena penumpukan gas metana.
Pak Joseph meminta kepada para Lurah untuk memahami peran yang tepat. "Bapak Ibu Lurah bukan yang bergerak sendiri, tetapi memfasilitasi masyarakat agar bergerak. Bank Sampah harus digerakkan oleh warga RT/RW dan masyarakat sekitar. Tiap Kelurahan minimal punya satu Bank Sampah."
Dengan dukungan aplikasi Bank Sampah, aktivitas pencatatan nasabah bank sampah, hingga saldo tabungan bisa dipantau secara transparan. Setiap kelurahan bisa melihat berapa nasabahnya, berapa kilogram sampah yang terkumpul, dan berapa rupiah nilainya.
Joseph mencontohkan dampak positif yang sudah dirasakan salah satu nasabah yang enggan mediakan namanya menyetor total 414,6 kg sampah, senilai Rp 769. 780 ditabung untuk kebutuhan sekolah anak. Selain itu juga salah satu nasabah sudah menarik saldo sampahnya untuk membayar token listrik lewat aplikasi. Anak-anak membawa sampah bernilai ekonomi ke sekolah Minggu dan menabung yang terkumpul Rp 50.000 mendapat bonus les bahasa Inggris gratis.
"Urus sampah dari rumah, mulai dari memilah. Sampah yang kita kelola bukan hanya menjaga lingkungan, tapi juga menambah nilai bagi keluarga kita sendiri. Mulai dari rumah, mulai dari diri kita," pesan Pak Joseph menutup pemaparannya.(*).
