Iklan

Politik

Mengandalkan Pacul dan Air Pegunungan, Bastian Kase Tetap Panen Padi di Tuanuna

, Oktober 25, 2026 WIB Last Updated 2026-10-25T07:32:21Z

Berita-Cendana.Com- Kupang,- Di tengah gempuran teknologi pertanian modern, semangat bertani secara tradisional tetap hidup di Tuanuna, Desa Meusin, Kecamatan Boking, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bastian Kase, seorang petani setempat, membuktikan bahwa dengan ketekunan, alat sederhana, dan berkah alam, lahan seluas 1,5 hektare tetap bisa menghasilkan padi yang melimpah. Panen pun sedang berlangsung, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Bastian tidak menggunakan traktor di lahannya. Kontur tanah yang berbukit dan tidak rata membuat mesin pertanian sulit beroperasi. Pacul dan tenaga sendiri tetap menjadi andalan utama. Bagi Bastian, ini bukan keterbatasan, melainkan warisan leluhur yang masih relevan hingga saat ini.

"Bukan baru sekarang saya menggunakan alat tradisional untuk mengolah lahan basah ini. Sebelum saya lahir, bapak dari bapak saya atau bai saya sudah menggunakan alat tradisional untuk mengolah lahan basah ini," ungkap Bastian di sela-sela panennya yang memasuki hari kedua.

Di sela kesibukan memanen, ia juga sibuk menjaga tanaman padi dari sergapan burung yang datang mencari makan. Semua dilakukan dengan ketekunan tangan sendiri.

Kunci keberhasilan pertanian di wilayah ini terletak pada kelimpahan sumber air pegunungan. Air yang mengalir dari kawasan Gunung Atbe dikenal masyarakat setempat sebagai Nifu Kani serta sumber air Air Besaf, terus mengalir dan menghidupkan persawahan di Tuanuna sepanjang musim.

Air yang melimpah dan tidak mudah kering menjadi penopang utama pertanian di daerah ini. Sumber daya alam yang berharga ini perlu dijaga kelestariannya agar generasi mendatang tetap dapat menikmati manfaatnya.

Kreativitas Bastian tidak berhenti di persawahan. Di sela-sela lahannya, ia juga menata bedeng kebun sayur yang tertanam kangkung, kacang panjang, cabai, tomat, dan aneka sayuran lainnya.

Sambil menjaga padi dari gangguan burung, kebun sayur juga ikut diurus. Hasilnya tidak hanya memenuhi dapur keluarga, tetapi juga berpeluang menambah penghasilan saat dijual ke pasar.

Pemanfaatan lahan basah dan lahan kering secara berdampingan menjadi contoh cerdas pengelolaan lahan yang terbatas.

Kisah Bastian Kase mengingatkan kita bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi. Pengetahuan lokal tentang kondisi tanah, musim air, dan cara mengolah lahan yang diwariskan antargenerasi tetap relevan. Teknologi memang maju, namun di Tuanuna, ketekunan, air yang terjaga, dan pacul di tangan masih menjadi resep keberhasilan panen padi.

Dari Tuanuna, Desa Meusin, Bastian Kase menjadi bukti sederhana: di mana ada kemauan dan air yang mengalir, di situ pangan tetap terjamin. (Penulis: Jho Kase)

 

 

 


Komentar

Tampilkan

  • Mengandalkan Pacul dan Air Pegunungan, Bastian Kase Tetap Panen Padi di Tuanuna
  • 0

Terkini

Ads

float