Iklan

Politik

SERTIFIKASI FASHION DESIGNER 2026: NTT TAK HANYA PUNYA TENUN, TETAPI MULAI MENYIAPKAN DESAINER YANG MAMPU MEMBAWANYA KE PASAR

, Oktober 22, 2026 WIB Last Updated 2026-10-22T07:05:37Z

Berita-Cendana.Com- Kupang,- Nusa Tenggara Timur tidak kekurangan kekayaan budaya. NTT memiliki tenun ikat dengan motif, warna, filosofi dan karakter yang tidak dimiliki daerah lain. Tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan tenun sebagai warisan budaya, tetapi bagaimana mengubah kekayaan tersebut menjadi karya fashion yang memiliki standar, daya saing, nilai tambah dan mampu menembus pasar yang lebih luas. Kamis, 22 Oktober 2026.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Kegiatan Sertifikasi Fashion Designer di Kota Kupang Tahun 2026, yang dilaksanakan selama tiga hari, 22-24 Oktober 2026, bertempat di Hotel Neo Eltari Kupang.

Kegiatan ini diikuti 30 peserta, terdiri dari 29 perempuan dan satu laki-laki. Mereka berasal dari kalangan perancang busana, pelaku usaha fashion, pelaku UMKM fashion, lulusan pendidikan maupun pelatihan tata busana, serta masyarakat kreatif di bidang fashion yang telah memiliki pengalaman dan keterampilan dalam perancangan busana dan siap mengikuti uji kompetensi sesuai persyaratan yang ditetapkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berdasarkan standar sertifikasi kompetensi BNSP.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, M.Si.

Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur LSP Mode Indonesia Yufie Safitri Sobari Kartaatmaja, S.Sn., M.Ds., CFD, Ketua Ikatan Penata Busana Indonesia (IPBI) Kota Kupang Sanny Tjung, Owner dan CEO Padu Padan Tenun Erwin Yuan, Ketua Forum Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan Kupang Mery R. Ch. Mesah, S.Kom., MM, perwakilan Kepala SMK Negeri 3 Kupang, serta para asesor dan narasumber, masing-masing Sri Widiani, CFD; Lia Nurlaela, S.E., CFD; dan Zahwa Fani Gunawan, S.Sn., CFD.

Tenun Harus Naik Kelas: Dari Warisan Budaya Menjadi Identitas Fashion

Dalam sambutannya, Doris Alexander Rihi menegaskan bahwa sertifikasi Fashion Designer merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT.

Menurut Doris, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata komitmen Pemerintah Daerah dalam meningkatkan kompetensi, profesionalisme dan daya saing pelaku ekonomi kreatif NTT, khususnya subsektor fashion.

NTT, kata Doris, memiliki modal budaya yang luar biasa melalui kekayaan kain tenun ikat yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengandung sejarah, identitas dan filosofi masyarakat di setiap daerah.

Namun, kekayaan tersebut tidak akan otomatis menjadi kekuatan ekonomi apabila tidak dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia.

“Kita tidak boleh berhenti pada kebanggaan bahwa NTT memiliki tenun. Kebanggaan itu harus kita dorong menjadi kemampuan untuk mengolah, mendesain dan memasarkannya sebagai produk fashion yang bernilai tinggi. Tenun harus hidup di pasar, bukan hanya tersimpan sebagai warisan di lemari.”

Doris menegaskan, seorang fashion designer tidak cukup hanya memiliki kreativitas dan selera estetika. Profesionalisme menuntut penguasaan yang lebih luas, mulai dari teknik desain, pemilihan bahan, pembuatan pola, konstruksi busana, hingga kemampuan menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual.

Karena itu, sertifikasi kompetensi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem fashion NTT yang lebih profesional.

“Kreativitas adalah modal awal, tetapi kompetensi adalah pembuktian. Sertifikasi memberikan pesan kepada konsumen bahwa produk yang lahir dari tangan pelaku fashion NTT dikerjakan oleh orang yang memiliki kemampuan dan standar profesional.”

Sertifikasi Bukan Sekadar Selembar Sertifikat

Doris menekankan bahwa sertifikasi tidak boleh dipandang sebatas kegiatan administratif untuk memperoleh selembar dokumen. Lebih dari itu, sertifikasi merupakan instrumen untuk membangun kepercayaan.

Di tengah persaingan industri fashion yang semakin terbuka, konsumen tidak hanya melihat apakah sebuah busana menarik. Konsumen juga semakin mempertimbangkan kualitas, konsistensi, profesionalisme, keamanan, ketepatan ukuran, desain, harga serta kemampuan produsen memenuhi kebutuhan pasar.

Karena itu, menurut Doris, peningkatan kompetensi pelaku fashion akan berbanding lurus dengan peningkatan kepercayaan terhadap produk UMKM lokal.

“Konsumen harus memiliki alasan untuk percaya kepada produk lokal. Salah satu alasan itu adalah profesionalisme pembuatnya. Ketika desainer kita tersertifikasi, kualitas SDM kita semakin terukur. Ketika kualitas SDM terukur, kepercayaan konsumen tumbuh. Dan ketika kepercayaan tumbuh, produk lokal memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pasar.”

Doris bahkan menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin UMKM NTT hanya kuat dalam jumlah, tetapi lemah dalam kualitas.

“Kita tidak ingin UMKM kita hanya banyak, tetapi tidak naik kelas. Kita ingin pelaku fashion NTT semakin kompeten, produknya semakin berkualitas, desainnya semakin kuat, dan pasarnya semakin luas.”

Membangun Branding Fashion NTT

Bagi Doris, sertifikasi Fashion Designer juga harus ditempatkan dalam agenda yang lebih besar, yakni membangun branding fashion NTT.

NTT tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan baku budaya. Tenun NTT harus memiliki posisi lebih kuat sebagai sumber inspirasi desain dan identitas fashion yang mampu diterjemahkan ke dalam berbagai produk modern tanpa kehilangan karakter budayanya.

“Kita tidak sedang mengubah tenun menjadi sesuatu yang kehilangan identitas. Justru sebaliknya, kita ingin membawa identitas NTT ke ruang yang lebih luas melalui desain yang modern, profesional dan diterima pasar.”

Menurutnya, inilah titik temu antara kebudayaan dan ekonomi kreatif. Budaya memberikan identitas, kreativitas memberikan inovasi, kompetensi memberikan kualitas, sementara pasar memberikan nilai ekonomi.

Dengan pendekatan tersebut, kain tenun tidak berhenti sebagai produk budaya, tetapi dapat berkembang menjadi busana, aksesori dan berbagai produk fashion yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

“Branding fashion NTT tidak akan lahir hanya dari promosi. Branding lahir dari kualitas karya yang konsisten. Karena itu, sebelum kita meminta pasar percaya kepada produk fashion NTT, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa orang-orang di belakang produk itu benar-benar kompeten.”

Dari Sertifikasi Menuju Pasar yang Lebih Besar

Kegiatan sertifikasi ini diharapkan menjadi titik awal bagi para peserta untuk meningkatkan kapasitas profesional sekaligus memperluas peluang kerja dan pengembangan usaha.

Doris berharap para peserta tidak berhenti setelah memperoleh sertifikat kompetensi.

Sertifikat, menurutnya, harus menjadi titik berangkat, bukan titik akhir.

“Setelah mendapatkan sertifikat, jangan berhenti. Justru di situlah tantangan dimulai. Buktikan kompetensi itu melalui karya. Buktikan melalui kualitas. Buktikan melalui kepuasan konsumen. Dan pada akhirnya, buktikan bahwa fashion designer NTT mampu berdiri sejajar dengan pelaku fashion dari daerah lain.”

Ia juga mendorong agar para desainer dan pelaku UMKM fashion membangun kolaborasi dengan pengrajin tenun, lembaga pendidikan, komunitas kreatif, pelaku pariwisata dan dunia usaha.

Kolaborasi tersebut dinilai penting karena industri fashion tidak dapat tumbuh secara sendiri-sendiri.

Fashion NTT harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan pengrajin, desainer, UMKM, lembaga pendidikan, pemerintah, pasar dan konsumen.

“Pemerintah bisa membuka jalan, memberikan fasilitasi dan memperkuat kapasitas. Tetapi karya dan keberanian untuk masuk pasar harus datang dari pelaku kreatif itu sendiri. Pemerintah membuka pintu, para kreator NTT harus berani melangkah dan menunjukkan kualitas.”

Pada akhirnya, Sertifikasi Fashion Designer Kota Kupang Tahun 2026 bukan sekadar agenda peningkatan kompetensi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan terhadap SDM lokal, memperkuat kualitas UMKM, meningkatkan nilai tambah produk fashion, sekaligus menempatkan identitas budaya NTT sebagai kekuatan branding di pasar nasional bahkan internasional.

Sebab, NTT tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki tenun. NTT harus dikenal sebagai daerah yang mampu melahirkan desainer, menciptakan fashion berkualitas, dan mengubah kekayaan budaya menjadi kekuatan ekonomi kreatif.

Tenun adalah identitas. Kreativitas adalah kekuatan. Kompetensi adalah standar. Dan pasar adalah medan pembuktiannya. (Kontributor: Paul S).


Komentar

Tampilkan

  • SERTIFIKASI FASHION DESIGNER 2026: NTT TAK HANYA PUNYA TENUN, TETAPI MULAI MENYIAPKAN DESAINER YANG MAMPU MEMBAWANYA KE PASAR
  • 0

Terkini

Ads

float