OPINI: Pendidikan Sebagai Salah Satu Aspek Penting Pembangunan Manusia

Yuventus Seran Aktivis PMKRI Kefamenanu

Berita-Cendana.com- Kefa,- Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup seluruh sistem sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya (Alexander, 1994).


Melalui tulisan ini, penulis mengajak pembaca untuk lebih menelisik pembangunan dari segi peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui aspek pendidikan. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul: "Pendidikan Sebagai Salah Satu Aspek Penting Pembangunan Manusia."


Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pembangunan manusia merupakan sebuah proses pembangunan yang bertujuan agar penduduk mampu memiliki lebih banyak pilihan, khususnya dalam perihal pendidikan, pendapatan, dan kesehatan (2015). 


Pembangunan manusia digunakan sebagai ukuran kinerja pembangunan secara menyeluruh yang dibentuk dengan pendekatan tiga dimensi dasar, yaitu pengetahuan, umur panjang, dan sehat, serta kehidupan yang layak (BPS, 2015).


Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pembangunan (United Nation Development Programme) atau disingkat UNDP menjabarkan pembangunan manusia sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk yang mana penduduk akan ditempatkan 

sebagai tujuan akhir, dan upaya pembangunan dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.


Lumbantoruan dan Hidayat (2014) menyebutkan 4 (empat) hal pokok yang perlu diperhatikan dalam pembangunan manusia, yaitu produktivitas, pemerataan, kesinambungan, dan pemberdayaan. Untuk mencapai pembangunan manusia maka pendidikan menjadi salah satu aspek penting yang harus diberi perhatian khusus. Mengapa demikian? Penulis memulai dari arti pendidikan itu sendiri.


Carter V. Good mendefinisikan pendidikan sebagai suatu proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakat. Sementara, Stella van Petten Henderson mengartikan pendidikan sebagai suatu kombinasi dari pertumbuhan dan perkembangan insani dengan warisan sosial.


Menurut Alfin, dkk (2020), pendidikan berperan sebagai aset sosial yang strategis dan realistis dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia dalam pembangunan. Parameter tingkat pendidikan dapat menggambarkan kualitas penduduk pada suatu daerah (Rachmadyanti, 2017). 


Konsekuensi logisnya adalah apabila tingkat pendidikan penduduk suatu daerah semakin tinggi maka kualitas penduduk tersebut semakin baik pula. 


Pada titik ini, pendidikan akan dianggap sebagai modal manusia yang dapat memberikan sumbangan besar dalam hal peningkatan pendapatan atau sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, sebagaimana dikemukakan Azid dan Khan (2010).


Dalam kaitan itu, penulis mencoba mengangkat contoh kasus di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).


Sebagaimana diketahui, Provinsi NTT adalah sebuah provinsi yang terletak di sebelah Tenggara Indonesia yang berbatasan dengan Laut Flores di sebelah Utara, Samuderah Hindia di sebelah Selatan, Timor Leste di sebelah Timur dan Provinsi Nusa Tenggara Barat di sebelah Barat.


Provinsi NTT didirikan pada 20 Desember 1958 dengan ibu kota di Kota Kupang dan memiliki 22 kabupaten/kota. Data BPS tahun 2020 menyebutkan penduduk Provinsi NTT berjumlah 5.325.566 jiwa, dengan kepadatan 111 jiwa per kilometer persegi.


Meski jumlah penduduknya terbilang masih sangat kecil, namun NTT merupakan salah satu provinsi dengan angka 

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah di Indonesia.


Menurut Rendusara 

(2020), pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan yang kecil justeru menempatkan NTT dengan IPM terendah ketiga di Indonesia, setelah Papua dan Papua Barat. Merujuk pada data BPS, IPM NTT pada tahun 2019 adalah 65,23. Angka ini berada jauh dibawah angka IPM nasional, yaitu 71,92. 


Lantas, Apa Faktor Penyebab Rendahnya IPM Di NTT?


Berdasarkan data yang dihimpun penulis, hampir semua sekolah di Provinsi NTT belum memiliki sarana/fasilitas pendidikan yang memadai dan merata, terutama sarana dan prasarana yang menunjang bakat dan minat bagi anak didik.


Hal ini dibuktikan juga dengan fakta lapangan yang dijumpai penulis di beberapa sekolah di Kabupaten Malaka dan Timor Tengah Utara, Provinsi NTT.


Selain itu, sarana perpustakaan sebagai ruang literasi bagi generasi NTT juga masih sangat minim. Dikemukakan Rendurasa (2020), hanya sangat sedikit sekolah di NTT yang memiliki fasilitas perpustakaan bagus dan lengkap.


Padahal diketahui bersama bahwa pendidikan sangat menentukan cara hidup seseorang dan masyarakatnya. Fasilitas 

pendidikan yang baik akan menyumbang cara pandang sebuah komunitas masyarakat untuk dapat hidup dan berperilaku secara cerdas. Melalui pendidikan, ruang-ruang keterbelakangan yang lain akan tersingkap satu demi satu.


Dalam era pembangunan saat ini diperlukan adanya sumber daya manusia yang berkualitas secara utuh. Konsepsi manusia seutuhnya, mencakup pengertian keutuhan potensi manusia sebagai subjek yang berkembang, serta keutuhan wawasan (orientasi) manusia sebagai subjek yang sadar akan nilai, yaitu manusia yang menghayati dan yakin akan cita-cita maupun tujuan hidupnya (Noor Syam, 1980).


Oleh karena itu, di akhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan beberapa rekomendasi. Pertama, pemerintah Provinsi NTT harus menganggarkan dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sarana-prasarana sekolah. Kedua, pemerintah kabupaten se-NTT harus ikut berperan aktif menggenjot terpenuhinya fasilitas penting di sekolah-sekolah. Ketiga, dibutuhkan partisipasi aktif berbagai elemen/komunitas/lembaga swasta di NTT untuk menyadarkan masyarakat akan arti pentingnya pendidikan demi menunjang pembangunan manusia di Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca di manapun berada.

Pro ecclesia et patria; manunggal dengan umat, terlibat dengan rakyat.


Penulis ini adalah Aktivitas PMKRI Cabang Kefamenanu dan Juga Mahasiswa FISIP UNIVERSITAS TIMOR TTU.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Subscribe Us

Responsive Ad Slot