Pemanfaatan Batang Pisang Sebagai Makanan Kesehatan Oleh Mahasiswa Fisip Undana

Berita-Cendana.com- Kupang, Pemanfaatan Batang Pisang sebagai makanan kesehatan, batang pisang diambil gratis menjadikan nilai ekonomis oleh mahasiswa Fisip Sosiologi Undana dalam praktek lapangan bidang kuliner.


Demikian disampaikan oleh dosen mata kuliah Kajian Masalah Sosial Drs. Aris Lambe M.Si kepada media di Oebufu pada hari Sabtu, 16/10/2021.


"Mahasiswa-mahasiswi Undana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Sosiologi yang memprogram mata kuliah kewirausahaan, kajian masalah sosial melakukan praktek membuat Pa'piong dengan memanfaatkan batang pisang yang diambil gratis dan dikelola dengan daging untuk menjadi nilai ekonomis untuk dikonsumsi," beber Dosen Sosiologi Undana itu.


Menurutnya bahwa mahasiswa sejak kuliah harus dilatih, diuji dengan berbagai macam cara untuk memperoleh ilmu dan pengalaman sehingga kemudian menjadi sarjana yang bermanfaat bagi bangsa dan negara, perkembangan globalisasi dan digitalisasi saat ini, harus menciptakan manusia-manusia yang berbobot untuk menghidupkan dirinya dan keluarganya dari hasil usahanya itu sendiri, jelas Aris Lambe yang dikenal Humoris itu.


Lanjutnya bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini, sejumlah mahasiswa yang mengalami kekurangan ekonomi sehingga yang lain tidak bisa membiayai perkuliahan atau bayar registrasi semester, namun dengan cara ini dilakukan tentu dapat membantu mengurangi tingkat kekurangan yang dialami oleh mahasiswa, karena pengalaman sudah peroleh sehingga bisa berusaha sendiri untuk mengatasi kekurangan yang dialaminya, penagalaman sangat berharga dan bernilai demi kehidupan manusia seluruhnya, ucap Aris.


Inilah cara mengolah batang pisang menjadi makanan kesehatan bagi tubuh manusia, batang pisang diiris halus-halus kemudian diremas untuk airnya dikeluarkan kemudian baru dicampurkan dengan daging ayam dan daging babi yang sudah dipotong, kemudian diisi dalam bambu lalu dibakar. Dibakar sekitar 2 jam sudah bisa disajikan menjadi makan yang paling lezat, jelasnya.


Lanjutnya, bahan-bahan yang digunakan seperti batang pisang dicampurkan dengan daging ayam dan daging babi,  ditambah lagi dengan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih yang sudah diulik, daun kemangi, lombok, kunyit, daun bawang, kelapa, garam, masako dan merica dan terakhir tambahkan batang pisang yang telah diiris halus dan direma kemudian   dicampurkan menjadi satu, jelas Aris Lambe.


Selain itu juga daging babi akan dicampurkan dengan bunga miana karena itu adalah makan khas Toraja dan manfaat bunga miana juga dapat menyembuhkan luka dalam, batuk bahkan TBC, namun masakan menggunakan wadah bambu, ucap Dosen Sosiologi Fisip Undana itu.


     Ket. Foto: Camila Camaleng Tengah


Pada kesempatan yang sama salah satu mahasiswi praktek, Camila Camaleng kepada media bahwa hari ini mahasiswa dilatih untuk berjiwa wirausaha, kelak menjadi sarjana bisa membuka Pa'piong Khas Toraja Cabang Alor untuk menambahkan penghasilan, menurutnya bahwa Pa'piong ini bahan-bahannya gampang diperoleh di Alor, jadi bisa membuat Pa'piong Khas Toraja Cabang Alor, beber Camila penuh senyuman.


Lanjutnya bahwa perkembangan era digital seperti ini manusia tidak boleh gengsi lagi, pekerjaan apapun dimanapun harus dikerjakan, baik bekerja di pemerintahan maupun wiraswasta, tetapi kerja sampingan untuk menambah penghasilan itu sangat penting, tegas Camila.


Produk Pa'piong yang dikerjakan oleh mahasiswa Fisip Sosiologi dengan rincian pa'piong babi 20 bambu, Ayam potong 41 bambu, Ayam Kampung 2 bambu masing-masing dijual dengan harga bervariasi, pa'piong babi per bambu Rp. 135.000, Ayam potong Rp. 115.000, Rp. Ayam Kampung 250.000.


Modal yang digunakan berjumlah Rp. 1.300. 000, setelah dijual menjadi Rp. 7. 600.000 berarti keuntungan yang diperoleh satu kali kerja adalah Rp. 6. 300.000


Mahasiswa yang hadir pada saat itu 40 orang kemudian mahasiswa yang memasarkan Pa'piong itu akan memperoleh komisi perbambu 25 ribu sebagai imbalan. 


Dari 40 mahasiswa praktek yang melakukan penjualan kepada pelanggan yang paling banyak terdapat 1 orang atas nama Waly Tung yang memperoleh penjualan 3 bambu sehingga ia memperoleh komisi Rp. 75.000 pada kegiatan praktek lapangan tersebut.


Penulis: Yulius Tamonob.


0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Subscribe Us

Responsive Ad Slot