Kecam Kekerasan di SMK Kristen Oinlasi, IMAN Kupang: Itu Premanisme, Bukan Profesionalisme Guru!

Berita-Cendana.Com- KUPANG,- Dunia Pendidikan di Nusa Tenggara Timur kembali tercoreng oleh dugaan tindakan kekerasan yang menimpa kakak kandung dari seorang siswa SMK Kristen Oinlasi yang bernama Yunri Liunesi, Ia mendatangi sekolah tersebut dengan tujuan minta klarifikasi status adiknya di sekolah yang kini tidak dapat mengikuti ujian karena tidak terdaftar di dapodik sekolah tetapi yang di dapatkan bukan jawaban yang rasional melainkan tindakan represif dari seorang oknum guru. Insiden ini memicu reaksi keras dari Ikatan Mahasiswa Amanatun (IMAN) Kupang yang menilai tindakan oknum guru tersebut telah melampaui batas kewajaran dan mencederai marwah profesi pendidik.

Pendidikan seharusnya menjadi fondasi peradaban bangsa, di mana guru diberikan kewenangan profesional untuk membimbing dan mencerdaskan. Namun, peristiwa yang menimpa Yunri Liven Liunesi justru menampilkan sisi gelap di institusi pendidikan.

Deki Selan, mewakili suara IMAN Kupang, menyatakan kecaman kerasnya terhadap tindakan represif yang dilakukan oleh oknum guru tersebut. Menurutnya, aksi agresif tersebut sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai pedagogis.

"Saya mengecam tindakan represif ini. Apa yang terjadi di SMK Kristen Oinlasi bukan lagi soal profesionalisme, melainkan cerminan premanisme yang menyusup ke tubuh pendidikan. Seorang guru profesional tidak akan melakukan tindakan kekerasan yang sampai mencoreng institusi tempatnya mengabdi," tegas Deki dengan nada tajam.

Kritik pedas juga dialamatkan kepada pihak manajemen sekolah. Respon Kepala SMK Kristen Oinlasi dalam memberikan klarifikasi terkait kasus ini dinilai justru memperkeruh suasana karena terkesan defensif dan melindungi pelaku.

"Klarifikasi dari kepala sekolah seakan-akan membela dan membiarkan benih-benih premanisme tumbuh subur di lembaga pendidikan. Padahal, masyarakat menitipkan anak-anak mereka di sekolah dengan harapan agar mereka tumbuh secara terdidik, bukan mendapatkan perlakuan kasar," lanjutnya. Mendesak Ketegasan Kepala Dinas P&K NTT.

Keresahan ini tidak boleh dibiarkan berlarut. IMAN Kupang mendesak otoritas tertinggi pendidikan di provinsi untuk segera turun tangan. Jika dibiarkan tanpa sanksi yang memberikan efek jera, dikhawatirkan pola kekerasan serupa akan terus berulang dan menjadi normalisasi di lembaga pendidikan lainnya.

"Oleh karena itu, saya sangat berharap adanya tindakan tegas dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT untuk menyikapi masalah ini secara serius. Jangan sampai institusi pendidikan kita kehilangan kepercayaan publik karena gagal menindak tegas oknum yang berperilaku layaknya preman," tutup Deki.

Hingga berita ini diturunkan, publik menanti langkah nyata dari Dinas P&K NTT untuk memastikan keadilan bagi korban dan pembersihan mentalitas kekerasan di lingkungan sekolah.(***).


0/Komentar/Komentar

Lebih baru Lebih lama

Responsive Ad Slot

Responsive Ad Slot