Iklan

Politik

Refleksi Pendidikan: Sekolah Bukan Tempat Menampung Pembiaran dari Rumah

, Oktober 24, 2026 WIB Last Updated 2026-10-24T08:41:23Z

 

Berita-Cendana.Com- Kupang,- Pendidikan sejatinya tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, melainkan dimulai dari rumah dan lingkungan tempat anak tumbuh. Sering kali muncul pemikiran bahwa ketika anak dikirim ke sekolah, seluruh tanggung jawab pembentukan karakter dan kecerdasannya sepenuhnya berpindah ke pundak guru. Padahal, jika setiap hari guru berjuang keras mengajar di depan kelas, tetapi di rumah orang tua memanjakan anak secara berlebihan dan memberikannya kebebasan tanpa batas, usaha tersebut akan sia-sia.

Ketika seorang anak tidak memiliki adab atau sopan santun, hal itu tidak bisa sepenuhnya ditimpakan sebagai kegagalan sekolah. Anak yang datang ke sekolah bukanlah "botol kosong" atau "kertas putih bersih". Ia datang membawa botol yang sudah terisi dan kertas yang telah terisi coretan. Baik atau buruknya isi dan coretan awal tersebut sangat bergantung pada apa yang ia dapatkan di lingkungan pertamanya, yaitu keluarga.

Jika di rumah anak terbiasa menyaksikan kekerasan dan tutur kata yang kasar, ia akan membawa perilaku tersebut ke luar rumah. Jika ia sering dipukul, dihina, dan dibandingkan dengan orang lain, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri di sekolah. Sebaliknya, jika ia terlalu dimanja dan tidak pernah diajarkan batasan, ia akan memiliki mental yang rentan dan mudah menyerah dan tidak siap menerima proses pembelajaran.

Saat melangkah ke sekolah, anak membawa seluruh kebiasaan dari rumah dan lingkungan sosialnya. Di dalam kelas, guru tidak hanya mengajar satu orang, melainkan puluhan anak dengan latar belakang "isi dan coretan" yang sangat beragam. Di sinilah guru berupaya sekuat tenaga menyatukan frekuensi dan memberikan pendidikan terbaik bagi setiap anak.

Sayangnya, pola pengasuhan yang berorientasi pada kasih sayang yang tepat masih sangat minim. Atas nama kasih sayang, banyak kesalahan anak justru dibiarkan. Tidak ada pengawasan yang memadai terhadap pergaulan, jam tidur, kebiasaan nongkrong, penggunaan game hingga jadwal belajar.

Di sekolah, guru berupaya membangun struktur dan kedisiplinan. Anak dididik untuk menghargai waktu kapan harus belajar dan kapan harus beristirahat. Hal ini merupakan bagian penting dari proses pembelajaran untuk menghargai setiap kesempatan. Guru juga mendidik siswa untuk datang tepat waktu, tetapi anak tetap datang terlambat dengan alasan bangun kesiangan. Jika demikian, lantas siapa yang harus disalahkan? apakah Guru yang disalahkan atau pola didikan orang tua di rumah? 

Guru memberikan tugas rumah atau PR agar kontrol belajar anak tetap terjaga saat berada di rumah. Namun, keesokan harinya anak datang tanpa mengerjakan tugas tersebut, kalau seperti ini siapa yang harus bertanggung jawab? apakah guru lagi? . Ketika anak kerap alfa dan tidak masuk sekolah, orang tua pun bersikap acuh tak acuh. Jika situasi ini terus berulang, siapa yang sebenarnya perlu dievaluasi? Apakah harus Guru lagi?. 

Guru di sekolah berusaha keras membangun struktur kedisiplinan dan pengajaran. Namun, ketika anak pulang ke rumah, struktur itu runtuh kembali. Akibatnya, keesokan harinya guru harus membangun ulang struktur tersebut dari nol.

Tantangan ini kian berat bagi sekolah-sekolah di daerah yang masih jauh tertinggal dari segi sarana dan sumber daya. Pada saat yang sama, standar dan capaian pendidikan nasional kerap diukur menggunakan indikator daerah maju yang tidak pernah mengalami keterbatasan fasilitas. Situasi ini ibarat kita dipaksa mempelajari gajah dan harimau, padahal di lingkungan sekitar kita hanya ada kerbau dan anjing.

Oleh karena itu, ketika seorang anak mengalami kegagalan dalam proses pendidikannya, hal tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada guru. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh. Orang tua perlu mengintrospeksi diri sejauh mana mereka telah memberikan perhatian, pengawasan, dan kasih sayang yang tepat di rumah. Begitu pula dengan seluruh pihak yang menjadi mitra dalam ekosistem pendidikan. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Sebagai langkah nyata, sinergi antara sekolah dan rumah harus dibangun kembali secara terstruktur melalui komitmen bersama. Orang tua perlu menetapkan jam belajar dan jam istirahat yang tegas di rumah, membatasi penggunaan gawai, serta hadir secara aktif untuk mendampingi dan mengawasi perkembangan anak. Sekolah dan orang tua juga perlu duduk bersama dalam ruang komunikasi yang transparan, bukan sekadar bertatap muka saat pembagian rapor, melainkan untuk menyelaraskan pola pembiasaan karakter agar apa yang dibangun guru di sekolah tidak kembali runtuh di rumah.

Di sisi lain, pemerintah dan pemangku kebijakan pendidikan harus lebih adaptif dalam menyusun kurikulum serta indikator kelulusan yang berbasis pada konteks kearifan lokal daerah. Pengadaan sarana dan prasarana belajar di wilayah tertinggal harus diprioritaskan agar ketimpangan tidak terus membayangi. Hanya dengan perbaikan pola pengasuhan di rumah, penguatan komitmen mitra pendidikan, dan kebijakan kurikulum yang adil serta kontekstual, anak-anak kita dapat tumbuh menjadi generasi yang beradab, berpengetahuan, dan berdaya saing.

Catatan ini saya susun berdasarkan beberapa realitas di lapangan yang saya temui secara langsung. Saya menemukan pelanggaran kehadiran dan keterlambatan siswa pada jurnal piket yang berulang-ulang kali, ketidakdisiplinan siswa dalam menyelesaikan tugas Pekerjaan Rumah (PR) hingga penanganan siswa yang bagi saya kelebihan istimewa dan aktif overdosis sampai membutuhkan pembinaan khusus melalui catatan kesiswaan dan rujukan bimbingan setiap saat. 

Tantangan ini kian kompleks ketika respons sebagian orang tua masih minim saat diundang berdiskusi bersama dewan guru demi kepentingan perkembangan anak.

Realitas ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus berbenah. Keberhasilan anak didik kerap dipandang sebagai usaha mandiri, tetapi kegagalan mereka tak jarang ditimpakan sepenuhnya kepada guru. Sinergi antara sekolah dan orang tua adalah kunci utama keberhasilan pendidikan. Opini : Yabes Merkido Ottu.



Komentar

Tampilkan

  • Refleksi Pendidikan: Sekolah Bukan Tempat Menampung Pembiaran dari Rumah
  • 0

Terkini

Ads

float