Diduga Hotmix Jalan Provinsi Ruas Pota-Waikulambu Rp 6,25 M Tak Sesuai Spek

Berita-Cendana.com- Diduga pekerjaan hotmix sepanjang 1 km pada jalan provinsi NTT, ruas Pota-Waikulambu Segmen (batas kabupaten) dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis (Spek). Diduga  kualitas maupun ketebalan hotmix yang dikerjakan oleh oleh PT. Bina Citra Teknik Cahaya (BCTC) tersebut tidak sesuai Spek.


Berdasarkan investigasi Tim Media ini di lokasi pekerjaan, ketebalan hotmix bervariasi antara 2 cm hingga lebih dari 3 cm.  Sementara ketebalan material yang digunakan dan dianggap sebagai agregat B (pasir bercampur sedikit batu pecah 2/3 cm) sekitar 4 cm.


Kurangnya ketebalan hotmix/aspal tersebut, beberapa titik tampak amblas/rusak  karena dilindas kendaraan roda empat/enam bermuatan berat.


Seperti disaksikan tim media ini di lokasi pekerjaan beberapa hari lalu, ada beberapa titik hotmix yang amblas (bergerak karena tidak saling mengikat). Hal itu diduga akibat dari kurangnya ketebalan hotmix (sekitar 2-3 cm) dan rendahnya kualitas hotmix.


Hotmix/ aspal yang digunakan juga tampak kurang hitam pekat alias berwarna pudar. Diduga karena kurangnya abu batu pecah dalam campuran hotmix.


Diduga PT. BCTC mengganti kekurangan abu batu pecah dengan pasir dalam campuran hotmix. Akibatnya, kualitas hotmix sangat rendah karena mudah retak, pecah, amblas, dan hancur.


Tampak juga kerikil kali/bulat yang dicampur dengan hotmix di permukaan badan jalan. Kerikil kali berukuran 2/3 cm tersebut menonjol keluar di permukaan badan jalan. Diduga kerikil kali bulat tersebut digunakan sebagai pengganti kekurangan batu pecah/split dalam campuran hotmix.


Akibatnya, kualitas hasil pekerjaan hotmix  yang dikerjakan oleh PT. BCTC bermutu rendah. Selain itu, diduga suhu hotmix saat dihampar berada dibawah suhu standar karena diangkut dari AMP PT. BCTC dari Maunori, Ende.


Sumber yang sangat layak dipercaya, mengungkapkan, waktu tempuh yang digunakan dalam sekali angkut (1 ret/PP) sekitar 8-10 jam. “Akibatnya, suhu hotmix saat dihampar sudah tidak memenuhi standar (sekitar 90 derajat celcius, red),” beber sumber yang tahu persis proses pekerjaan tersebut.


Rendahnya kualitas hotmix/aspal, lanjutnya, dapat dilihat secara visual, seperti warna aspal kurang hitam, dan banyak agregat yang lepas dari permukaan aspal badan jalan. Tampak juga ada retak rambut di lokasi tertentu karena pemadatan aspal yang tidak merata dan kondisi pondasi badan jalan yang masih labil. 


Selain itu, ia menduga material (kerikil kali dan pasir bercampur batu pecah, red) yang digunakan sebagai pondasi badan jalan amblas maka hotmix yang ditopangnya ikut patah, amblas, dan hancur saat dilindas kendaraan.


Menurutnya,  saat proses uji coba hotmix,  PT. BCTC sempat mendapat teguran  dari  Dinas PUPR Provinsi NTT terkait kurangnya  abu batu (abu batu pecah, red) dan split/batu pecah ukuran 0,5 cm.


“Karena kekurangan material itu, maka pada saat itu staf dari Dinas PUPR NTT itu menyarankan kepada Baba Heng Kosmas (Direktur PT. BCTC) untuk membeli abu batu dan spilt tersebut dari perusahaan lain diantaranya kepada PT. Novita Karya Taga. Namun saran dari salah satu pegawai PU provinsi itu tidak diikuti oleh Baba Heng,“ ungkapnya sembari meminta agar identitasnya dirahasiakan.


Ia mengakui, hotmix yang dihampar pada badan jalan tidak sesuai standar mutu dalam kontrak kerja. “Kalau pak wartawan katakan bahwa hasil pekerjaan aspal kami tidak sesuai spesifikasi memang banar pak, karena saat proses pencampuran di AMP, komposisi material penyusun agregat aspal  tidak sesuai, karena kekurangan abu batu dan split tadi pak,” jelasnya.


Selain itu, paparnya, kadar aspal yang harus dipakai minimal 6,2 % maka kadar aspal yang digunakan di lapangan harus 6,2% juga. “Saat dihampar, suhu penghamparan aspalnya  tidak sesuai spesifikasi biasanya terjadi karena jarak AMP kami di Maunori perbatasan antara Kabupaten Ende dan Nagekeo. Sementara lokasi kerja yang pak lihat di Kampung Kembo, Desa Gololijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Jarak lokasi AMP dengan lokasi pengaspalan terlalu jauh,” tandasnya.


Direktur PT. BCTC, Kosmas Heng yang dikonfirmasi via pesan WhatsApp/WA terkait pekerjaan jalan Ruas Pota-Waikulambu yang tidak sesuai spesifikasi teknis (Spek), hingga berita ini ditayang tidak menjawab permintaan klarifikasi dari tim media ini walaupun pesan tersebut telah dibacanya.


Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Ipu Dere yang dikonfirmasi Tim Media ini membantah kalau pekerjaan HRD base sepanjang 1 km di ruas Pota-Waikulambu membantah kalau ketebalan dan kualitas hotmix di ruas jalan tersebut tidak sesuai spesifikasi teknis.


Menurutnya, PT. BCTC telah melaksanakan pekerjaan sesuai spesifikasi dalam kontrak.  “Tebal hotmix 3,5 cm. Toleransinya 3,4 cm. Kalau dibawah itu tidak dibayar. Itu sudah diperiksa. Sudah diambil sand cone (pengambilan sampel hotmix berbentuk  bundar berdiameter 10 cm untuk mengukur ketebalan hotmix, kepadatan dan menguji kualitas hotmix, red). Apakah memenuhi syarat atau tidak? Sekarang sedang pengajuan pembayaran 100 persen,” ujarnya.


Ia menjelaskan, meterial yang di mix/dicampur untuk menghasilkan hotmix terdiri atas agregat/split/batu pecah ukuran 0,5 cm, abu batu (yang telah disaring, red) dan ter. “Suhu hotmix saat dihampar juga diawasi oleh pengawas,” jelasnya.


Seperti diberitakan sebelumnya, diduga Proyek Peningkatan Jalan Provinsi Ruas Pota-Waikulambu berupa pekerjaan Hotmix 1 km dan GO/perkerasan jalan dengan nilai sekitar Rp 6.250.000.000,- diduga dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis/Spek karena diduga tidak menggunakan agregat B dan agregat A sebagai pondasi jalan.


Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Ipu Dere yang dikonfirmasi Tim Media ini membantah kalau pekerjaan HRD base sepanjang 1 km di ruas Pota-Waikulambu segmen 2, tidak menggunakan agregat A dan B. “Tidak mungkin kontraktor kerja tanpa agregat. Kalau tidak pakai agregat maka kami tidak bayar,” ujarnya. (YT/Tim).

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Subscribe Us

Responsive Ad Slot