Bank NTT Targetkan Dividen 2026 Capai 43.6 Miliar

 

Berita-Cendana.Com- Kupang,- Direktur Utama Bank NTT kepada wartawan seusai rapat bersama komisi lll  DPRD Provinsi NTT bahwa target dividen tahun 2026 mencapai 43.6 miliar. Charlie optimis dengan struktur manajemen yang lebih stabil dan percepatan penyaluran kredit sejak awal tahun maka kinerja tahun buku 2026 akan lebih baik. Dengan peningkatan kinerja, Bank NTT menargetkan proyeksi setoran dividen tahun 2026 sebesar Rp 43,6 miliar, dimana perhitungannya akan disesuaikan dengan kinerja tahun berjalan. 

Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPRD NTT pada Rabu, 21 Januari 2025. 

“Kami optimistis 2026 akan menjadi tahun yang lebih produktif, dengan manajemen yang stabil, proses bisnis yang lebih disiplin, dan pengendalian risiko yang ketat, kinerja Bank NTT akan terus membaik,” kata Dirut.

Selain itu, Dirut mengakui bahwa  pada tahun buku 2025 menyetorkan dividen sebesar Rp. 29.6 miliar kepada Pemerintah Daerah. Nilai dividen yang mengalami penurunan secara signifikan tidak terlepas dari kinerja keuangan Bank yang belum optimal, jelasnya.

Charlie Paulus menyampaikan bahwa total dividen tahun buku 2025 hanya mencapai sekitar Rp. 29.6 miliar. Pendapatan Bank NTT tercatat berada di bawah target, sementara biaya operasional justru meningkat. 

Menurut Charlie, dividen lebih kecil karena laba juga lebih rendah. Laba ditentukan oleh pendapatan dan biaya. Ketika pendapatan tidak tercapai dan biaya melebihi target. Hal ini terjadi karena sejumlah faktor yang menekan kinerja laba Bank NTT sepanjang 2025. Faktor utamanya adalah melambatnya pertumbuhan kredit pada periode tahun berjalan.

Penyaluran kredit baru menunjukkan pergerakan signifikan pada akhir tahun 2025 terutama pada bulan Oktober hingga Desember dimana kondisi tersebut tidak terlepas dari pergantian manajemen pada bulan Mei 2025 sehingga pengurus belum sepenuhnya jelas dimana kondisi tersebut  sangat mempengaruhi fokus manajemen sehingga kredit melambat dan pendapatan tidak tercapai sesuai target, ujar Charlie Paulus.

Faktor lain yang mempengaruhi kinerja  adalah pembebanan sejumlah kewajiban yang sebelumnya belum dicatat secara akuntansi. Charlie menegaskan, praktik tersebut tidak bisa lagi ditoleransi. Setelah manajemen baru, melakukan penataan laporan keuangan, sejumlah kewajiban harus dicatat. Diantaranya adalah kewajiban pembayaran kepada PT. Jamkrindo sebesar Rp. 7,3 miliar, serta cadangan kewajiban pajak.

“Jika kewajiban kepada Jamkrindo tidak dipenuhi, kita tidak bisa menjalankan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR menjadi salah satu fokus ke depan sehingga seluruh kewajiban harus dicadangkan,”. (*).






0/Komentar/Komentar

Lebih baru Lebih lama

Responsive Ad Slot

Responsive Ad Slot