Berita-Cendana.Com- Nunkolo,- Inovasi pertanian yang diinisiasi oleh perangkat desa di Indonesia semakin terfokus pada digitalisasi (Smart Farming) dan efisiensi biaya produksi untuk menjaga ketahanan pangan lokal. Berdasarkan kebijakan terbaru, pemerintah pusat mewajibkan minimal 20% Dana Desa 2026 dialokasikan untuk program ketahanan pangan.
Berikut adalah beberapa bentuk inovasi utama yang diterapkan oleh perangkat desa: Implementasi Smart Farming dan IoT Perangkat desa kini mulai memfasilitasi penggunaan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk presisi pertanian. Irigasi Tetes Pintar: Penggunaan sensor tanah yang terhubung ke ponsel untuk memantau kebutuhan air tanaman secara real-time, seperti yang diterapkan di Desa.
Selain itu, alat ukur Portabel: Penggunaan perangkat IoT portabel untuk mengukur pH tanah, suhu, dan unsur hara NPK secara langsung di lahan petani guna memberikan rekomendasi pemupukan yang akurat.
Pemanfaatan Drone: Desa-desa mulai menggunakan drone untuk penyemprotan pupuk cair dan pestisida guna efisiensi waktu dan tenaga kerja.
Namun di Desa Saenam Kecamatan Nunkolo Kabupaten Timor Tengah Selatan tidak memperoleh jaringan internet dengan baik sehingga tidak dapat menggunakan beberapa alat di atas tetapi petani tetap berinovasi dengan menggunakan plastik mulsa untuk menjaga air tanah sehingga tanaman tidak terendam air dan hasil cukup menjanjikan petani. “Tanah tidak pernah menipu manusia,”. Salah satu perangkat desa yakni Yakobus Tualaka berinovasi dan menambahkan pendapatan petani di desa tersebut.
Kemajuan teknologi telah membawa berbagai inovasi yang dapat diterapkan di desa untuk mendukung sektor pertanian. Berikut adalah beberapa teknologi yang memiliki dampak signifikan.
Irigasi pintar menggunakan sensor tanah dan perangkat lunak berbasis data untuk memantau kebutuhan air tanaman secara real-time. Teknologi ini memungkinkan petani untuk menghemat air dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Dengan irigasi pintar, petani tidak perlu lagi mengandalkan pola irigasi tradisional yang sering kali tidak efisien.
Meski manfaatnya sangat besar, penerapan teknologi pertanian di desa tidak lepas dari tantangan, seperti kurangnya pengetahuan petani, biaya investasi yang tinggi, dan infrastruktur yang belum memadai. Berikut adalah beberapa solusi yang dapat dilakukan:
- Pelatihan dan Edukasi: Pemerintah dan lembaga non-pemerintah dapat menyediakan pelatihan bagi petani untuk memahami dan memanfaatkan teknologi.
- Subsidised Teknologi: Penyediaan subsidi atau kredit khusus untuk pembelian alat-alat teknologi dapat membantu petani mengatasi kendala biaya.
- Kerja Sama dengan Swasta: Kolaborasi dengan perusahaan teknologi dapat membuka akses bagi petani untuk menggunakan perangkat modern dengan biaya yang lebih terjangkau.
Terpisah Kepala Desa Saenam Eduar Tualaka, SH kepada media bahwa perangkat Desa Saenam itu sangat inovatif dan kreatif karena telah berinovasi di desa untuk mendukung pangan lokal sesuai dengan Presiden Prabowo Subianto terkait dengan peningkatan pangan lokal.
Lanjut Kades, Yakobus Tualaka adalah Sarjana pertanian yang bukan bicara teori saja tetapi kerja nyata dan membuktikan sehingga telah panen beberapa kali yang disaksikan oleh Pemerintah Desa dan Pemerintah Kecamatan Nunkolo, jelasnya.
Edu Tualaka mengatakan bahwa pada 6 Januari 2026 Yakobus Tualaka melakukan syukuran atas kerjanya mulai dari SK perangkat Desa, Wisuda sarjana sekaligus mengucap syukuran Natal dan Tahun Baru, ujar Kades Saenam. (*).

Posting Komentar