Iklan

Politik

Kebersihan & Lingkungan Hidup: Menjaga Alam Melalui Nadi Budaya

, September 11, 2026 WIB Last Updated 2026-09-12T14:39:50Z

Berita-Cendana.Com- Kupang,- Di Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak, keindahan budaya dan keindahan alam berjalan beriringan. Festival Budaya Nunhila 2026 di Batu Kepala Beach bukan hanya panggung seni dan tradisi, melainkan juga pengingat, merawat budaya sama dengan merawat tanah tempat kita hidup.
 
Ketua Panitia Festival Budaya Nunhila 2026, Daud Padja, menegaskan bahwa penghormatan kepada lingkungan hidup sudah tertanam dalam nilai-nilai leluhur. Selasa, 8 September 2026.
 
"Dalam budaya kita, laut, pantai, dan tanah bukan sekadar tempat. Itu Ibu yang memberi kehidupan. Jika kita membiarkannya kotor, kita melukai Ibu sendiri. Kebersihan bukan aturan baru, itu ajaran nenek moyang yang harus kita hidupkan kembali."
 
Menurut Daud, warisan tidak hanya berupa tarian atau tenunan, tetapi juga cara hidup menghormati alam. Setiap tarian yang ditampilkan, setiap lagu yang dinyanyikan, mengandung pesan syukur atas tanah dan laut yang memberi makan warga Nunhila.
  
Asisten Administrasi Umum Setda Kota Kupang, Yanuar Dally, S.H., M.Si., yang hadir mewakili Walikota Kupang, menyampaikan bahwa keberlangsungan budaya sangat bergantung pada lingkungan yang sehat.
 
"Bagaimana kita bisa bangga memperkenalkan budaya jika tempat kita menyelenggarakannya kotor? Batu Kepala Beach adalah wajah kita. Ketika pantai bersih, pengunjung datang, dan budaya kita dikenal. Ketika kotor, siapa yang mau datang? Kebersihan adalah pintu masuk bagi budaya kita untuk dikenal dunia."
 
Yanuar menambahkan, keberagaman etnis yang hidup di Nunhila didominasi etnis Sabu serta warga dari latar belakang lain yang memiliki kesamaan, semua bergantung pada alam. Menjaga kebersihan adalah cara menjaga persatuan sekaligus menjaga masa depan bersama.
 
Penampilan seni dari anak-anak PAUD dan SD setempat bukan sekadar tontonan. Di balik tarian dan nyanyian itu terselip pesan, generasi penerus diajarkan mencintai lingkungan sejak dini.
 
"Anak-anak melihat pantai bersih, mereka belajar menghargai. Mereka melihat sampah, mereka menganggap itu hal biasa. Mari kita berikan teladan yang benar," ujar salah satu orang tua warga, Maria Berek, yang hadir menonton penampilan anak-anak.
 
Ia berharap setiap kegiatan warga, baik festival maupun pertemuan sederhana selalu diakhiri dengan membersihkan tempat bersama, sebagai bagian dari tradisi kebersamaan.
 
Daud Padja mengingatkan bahwa mini expo UMKM yang digelar tak akan berarti jika pengunjung enggan datang.
 
"Produk kita bagus, tenunan kita indah tapi kalau tempatnya kotor, siapa yang mau membeli? Kebersihan bukan beban, itu investasi. Lingkungan yang asri mendatangkan tamu, tamu membawa rezeki, dan rezeki dibagi bersama."
 

"Kita hidup di atas tanah yang sama, di tepi laut yang sama. Kalau kita tidak menjaganya, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" ujar Daud Padja. (*).

Komentar

Tampilkan

  • Kebersihan & Lingkungan Hidup: Menjaga Alam Melalui Nadi Budaya
  • 0

Terkini

Ads

float