Berita-Cendana.Com- TTS,- Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sekaligus Ketua Komisi II, Semy Sanam, SH, memberikan sorotan tajam sekaligus desakan keras kepada kepolisian terkait penanganan kasus kematian misterius mahasiswi Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, Yerdi Efrosina Beukliu. Ia meminta Polres Kupang Kota melakukan pemeriksaan mendalam terhadap 11 orang saksi yang sudah diperiksa, serta menelusuri seluruh jejak digital milik korban untuk menemukan kebenaran.
Demikian disampaikan oleh Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan, Semy Sanam, SH dibilangan Kota Soe pada Senin, 1 Juni 2026.
Yerdi, mahasiswi Semester 4 Program Studi Bahasa Indonesia, meninggal dunia secara tragis pada 9 Mei 2026 lalu, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kampus, dan masyarakat luas. Di ruang kelas kampusnya, kini terlihat kursi kosong yang menjadi pengingat pilu akan sosoknya yang hilang selamanya.
"Kursi itu kosong, ruangan jadi sunyi. Kehilangan ini adalah luka yang tak terobati. Yerdi masih sangat muda, masa depannya masih panjang. Kami tidak bisa membiarkan kasus ini selesai begitu saja tanpa kejelasan," ungkap Semy Sanam dengan nada penuh keprihatinan.
Periksa Jejak Komunikasi dan Transaksi Elektronik
Menurut politisi dari Partai Demokrat ini, ada langkah krusial yang belum digali secara maksimal oleh penyidik. Ia menyarankan agar kepolisian menelusuri seluruh data digital yang ada di perangkat milik korban maupun rekam jejak komunikasi dan transaksi elektronik yang tercatat di sistem penyedia jasa.
"Polres Kupang Kota wajib meneliti catatan digital milik Yerdi. Kemungkinan besar ada rekam jejak komunikasi dengan terduga pelaku, atau percakapan lain yang bisa menjadi kunci kasus ini. Jangan abaikan juga transaksi elektronik yang mencurigakan atau komunikasi terakhir sebelum ia meninggal. Ini adalah wewenang dan tugas pokok kepolisian untuk mengungkapnya," tegas Semy.
Ia meyakini bahwa di era teknologi saat ini, jejak digital sering kali menjadi saksi bisu yang paling akurat dan mampu menghubungkan fakta-fakta di lapangan.
Pemeriksaan 11 Saksi Harus Lebih Menyeluruh
Terkait keterangan 11 orang saksi yang sudah diperiksa penyidik, Semy meminta agar pemeriksaan tidak berhenti sebatas keterangan permukaan saja. Pemeriksaan harus digali lebih dalam, saling silang cek fakta, dan dikaitkan dengan bukti fisik yang ditemukan di lokasi kejadian.
Hal ini sangat penting, mengingat dampak psikologis yang dirasakan oleh penghuni kos-kosan dan warga sekitar pasca kejadian. "Banyak perempuan yang tinggal di lingkungan kos-kosan merasa terganggu, ketakutan, dan tertekan secara psikologis. Mereka merasa tidak aman selama kebenaran belum terungkap dan pelaku belum ditangkap. Polisi wajib memprioritaskan kasus ini demi rasa aman publik," tandasnya.
Apresiasi Obyektivitas, Namun Minta Proses Dipercepat
Semy Sanam mengaku menghargai sikap kepolisian yang berhati-hati dan menunggu hasil otopsi serta data ilmiah sebelum mengambil kesimpulan, agar tidak terjadi kekeliruan informasi yang bisa menyesatkan publik. Namun, hal itu tidak boleh membuat proses penyelidikan berjalan lambat.
"Saya lihat ada anggapan bahwa proses ini agak lambat. Pemberitaan yang beredar sebenarnya adalah bentuk tekanan publik agar aparat tidak mengumumkan hal yang keliru, tapi sekaligus mengingatkan agar jangan lambat. Menunggu hasil laboratorium itu wajib, tapi pengumpulan bukti lain, pendalaman keterangan saksi, dan penelusuran jejak harus tetap berjalan beriringan," jelasnya.
Ia juga menyoroti kasus ini dalam bingkai yang lebih luas, yakni perlindungan terhadap perempuan. Kematian Yerdi yang penuh kejanggalan. Mulai dari bekas kekerasan, cekikan, hingga dugaan kekerasan seksual menjadi bukti nyata masih rentannya perempuan menghadapi ancaman kejahatan.
"Kasus kekerasan terhadap perempuan seperti ini tidak boleh dibiarkan menjadi misteri. Pemerintah dan DPRD wajib terus mengingatkan dan mendesak aparat penegak hukum. Kami berharap kasus ini menjadi prioritas utama, sehingga hukum bisa bekerja menyembuhkan luka keluarga dengan cara menemukan dan menghukum pelakunya seberat-beratnya," pungkas Semy Sanam, SH.
Hingga saat ini, publik dan keluarga korban masih menunggu perkembangan terbaru hasil otopsi dan kesimpulan penyelidikan polisi yang diharapkan bisa menjawab segala tanda tanya di balik kematian mahasiswi berprestasi tersebut.(*).

Posting Komentar