Berita-Cendana.com-Nunkolo,- Keharmonisan rumah tangga pasangan sah YM dan FN beserta ketiga anaknya hancur berantakan. Kondisi kacau dan penuh ketakutan itu diduga bermula dari peran seorang wanita bernama OTAL atau yang akrab dipanggil Nona Sahan. Diduga karena kelicikan dan sikapnya yang merayu, hubungan suami istri yang telah terikat secara resmi itu retak parah hingga berujung pada kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Demikian informasi yang dihimpun oleh tim redaksi pada Senin, 13 Juli 2026
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, suasana rumah tangga yang semula tenang berubah drastis. Suami, YM, diketahui mulai bertindak kasar: kerap memukuli FN, melempari istrinya dengan benda keras seperti tas, serta menelantarkan kebutuhan hidup istri dan anak-anak. Tak hanya itu, YM sering mengamuk, merusak perabot rumah tangga, hingga mengeluarkan ancaman yang membuat FN dan ketiga anaknya merasa terancam nyawa. Karena tidak tahan lagi dengan tekanan dan kekerasan itu, FN beserta anak-anak akhirnya mengamankan diri ke rumah orang tuanya di Desa Saenam, wilayah tetangga.
Perbuatan keji yang mengganggu keharmonisan keluarga ini diduga berawal dari hubungan terlarang antara YM dan OTAL selama beberapa bulan. Keduanya sempat diketahui warga Desa Sahan dan bahkan pernah diamankan oleh warga setempat setelah ketahuan berbuat perzinahan. Namun, saat peristiwa itu dibahas dan diselesaikan secara kekeluargaan oleh warga serta keluarga besar di Desa Sahan, YM dan OTAL justru memilih melarikan diri ke Kalimantan tanpa menyelesaikan permasalahan yang ada.
Sesampainya di Kalimantan, kabar mengenai perbuatan tercela keduanya pun tersebar luas. Menyikapi hal itu, pihak berwenang di daerah tersebut kemudian mengambil langkah untuk memulangkan mereka kembali ke daerah asal guna mempertanggungjawabkan perbuatan dan menyelesaikan kasus yang ditimbulkan. Proses pemulangan kedua pihak itu dikawal langsung oleh Yusuf Nomlene, saudara kandung FN, agar perjalanan berjalan tertib.
Keduanya akhirnya tiba kembali di Desa Sahan pada awal Juli 2026. Menyikapi kembalinya mereka, Pemerintah Desa Sahan segera mengambil inisiatif menggelar pertemuan klarifikasi dan mediasi di kantor desa. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan keluarga kedua belah pihak, tokoh masyarakat, serta aparat desa setempat sebagai upaya awal mencari titik temu penyelesaian secara damai sebelum kasus dibawa ke jalur hukum yang lebih tinggi.
Hingga saat ini, proses pendekatan dan klarifikasi masih berlangsung. Sementara itu, FN sebagai istri sah yang merasa dirugikan secara lahir dan batin telah menyatakan kesiapannya untuk menempuh jalur hukum jika upaya perdamaian di tingkat desa tidak membuahkan hasil yang adil.(*).

Posting Komentar