Berita-Cendana.Com- Kupang,- “Perjumpaan adalah mahkota dari kasih.” Pesan sederhana namun mendalam dari Pdt. Emeritus A.B.E. Poli itu menjadi napas Temu Alumni Persekutuan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta (PASTIJA) NTT, Sabtu (26/9/2026).
Temu Alumni yang digelar dalam suasana sederhana dan penuh keakraban tersebut merupakan bagian dari rangkaian menyongsong HUT ke-92 STFT Jakarta. Sebanyak 20 alumni dari berbagai angkatan hadir, mempertemukan generasi senior dan generasi muda dalam satu ruang persaudaraan.
Kegiatan ini merupakan agenda kedua PASTIJA NTT setelah sebelumnya menyelenggarakan webinar bertema “Gereja dan Negara.” Jika webinar menjadi ruang untuk mendiskusikan relasi gereja dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, Temu Alumni kali ini menjadi ruang untuk kembali merawat sesuatu yang lebih mendasar: relasi, persahabatan, dan persaudaraan.
Salah satu momentum penting dalam kegiatan tersebut adalah penanaman pohon sawo sebagai simbol kehidupan dan kemanusiaan yang terus bertumbuh dan menghasilkan buah.
Penanaman dilakukan bersama Ketua PASTIJA NTT Desiana Rondo Effendy, M.Th., Ketua Panitia Pelaksana Temu Alumni Russal Neonufa, Pdt. Jeni Misa, Tony Fanggidae, Hany Laa, Dani Patinaya, serta badan pengurus dan para alumni yang hadir.
Pohon tersebut sekaligus menjadi tanda syukur atas perjalanan panjang STFT Jakarta selama 92 tahun.
Sembilan puluh dua tahun bukan sekadar perjalanan waktu. Ia adalah perjalanan menanam, bertumbuh, dan menghasilkan buah. Buah itu antara lain terlihat melalui para alumni yang kini hadir dan berkarya dalam berbagai bidang pelayanan di gereja maupun masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, Pdt. Emeritus A.B.E. Poli mengingatkan para alumni tentang makna terdalam sebuah perjumpaan.
«“Perjumpaan adalah mahkota dari kasih.”»
Pesan itu menjadi refleksi bersama bahwa kasih tidak cukup hanya dibicarakan. Kasih membutuhkan kehadiran. Kasih membutuhkan waktu. Bahkan kasih terkadang menuntut seseorang meninggalkan kesibukannya, menempuh jarak, dan menyediakan dirinya untuk datang berjumpa dengan yang lain.
Ketua PASTIJA NTT Desiana Rondo Effendy mengatakan bahwa karena itulah sebuah perjumpaan sesungguhnya sangat mahal.
“Perjumpaan itu sangat mahal. Kita membutuhkan pengorbanan untuk dapat berjumpa. Tetapi dari perjumpaan itu lahir kasih, persahabatan, dan kekuatan untuk terus berjalan bersama,” kata Desiana.
Temu Alumni PASTIJA NTT juga menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Alumni yang telah puluhan tahun menjalani pelayanan bertemu dengan generasi alumni yang lebih muda.
Perbedaan usia dan angkatan tidak menjadi sekat. Sebaliknya, pengalaman panjang para senior dan energi generasi muda menjadi kekayaan yang saling melengkapi dalam satu keluarga besar alumni STFT Jakarta.
PASTIJA NTT berharap perjumpaan seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi tradisi persaudaraan lintas generasi.
Semangat itu juga akan diwujudkan dengan mengunjungi para sahabat dan alumni yang sedang menjalankan tugas pelayanan di berbagai tempat, termasuk para senior yang telah memasuki usia indah dan membutuhkan perhatian serta sapaan persaudaraan.
Sebab menjadi alumni bukan hanya tentang mengenang masa ketika pernah belajar di kampus yang sama. Menjadi alumni berarti menjaga persekutuan dan memastikan tidak seorang pun berjalan sendirian dalam perjalanan panjang kehidupan dan pelayanan.
STFT Jakarta telah menjadi rumah pembentukan bagi banyak generasi. Dari sanalah para alumninya belajar tentang iman, pelayanan, kehidupan bersama, dan tanggung jawab untuk menghadirkan kehidupan yang berdampak bagi gereja dan masyarakat.
Karena itu, pohon sawo yang ditanam dalam Temu Alumni PASTIJA NTT bukan sekadar pohon yang ditanam di tanah.
Ia adalah sebuah doa. Semoga persaudaraan alumni terus berakar. Semoga persekutuan terus bertumbuh. Dan semoga kehidupan terus menghasilkan buah.
Sebab setelah perjalanan panjang, yang paling berharga bukan hanya apa yang telah dicapai, tetapi siapa yang masih bersedia berjalan bersama.
Perjumpaan adalah mahkota dari kasih. Kasih membuat kita datang. Perjumpaan membuat kita kembali menjadi saudara. Dan persaudaraan membuat kehidupan terus berbuah.(*).
