Berita-Cendana.Com- Jakarta,- ”Ibu Maria Imaculata Thodja: Kebanggaan Keluarga, Pilar Pemberdayaan Agung dan Sang Motivator dalam bidang Pendidikan untuk Gereja dan Negara yang tetap Hidup dalam Warisan Kasih.”
Kehidupan bukanlah tentang seberapa lama kita bernapas di dunia, melainkan tentang seberapa dalam jejak kebaikan yang kita tinggalkan untuk sesama. Ketika Almarhumah Maria Imaculata Thodja, AMD, dipanggil pulang oleh Sang Pencipta pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026 tepat pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Keluarga Bapak Sebastianus Renggo kehilangan sosok seorang ibu yang penuh kasih, sang motivator dalam bidang pendidikan untuk gereja dan negara, dan sebagai pendoa di tengah keluarga.
Ibu Maria Immaculata, lahir di Woloboa, Flores, 06 Desember 1955, perjalanan hidup Mama Maria Immaculata adalah sebuah narasi agung tentang pengabdian, ketangguhan, dan cinta yang melampaui batas perjuangannya.
Sebagai seorang perempuan berpendidikan lulusan Akademi Perbanas Jakarta-AMD, Mama Maria tidak menyimpan ilmunya untuk diri sendiri. Ia adalah sosok visioner yang menerjemahkan kapasitas akademisnya ke dalam aksi nyata di tengah masyarakat Kabupaten Sikka Maumere-Flores.
Jejak karyanya tercatat emas di Kabupaten Sikka, Maumere, di mana ia bahu-membahu bersama Bapak Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD (almarhum) dan para suster SSpS demi satu tujuan mulia pemberdayaan gender, di era ketika isu perempuan belum senyaring sekarang, Mama Maria telah bergerak di garis depan, memastikan kaumnya mendapatkan ruang, martabat, dan hak yang setara pada ruang publik (forum externum).
Keterlibatannya dalam dunia sosial tidak pernah lepas dari akar imannya yang kuat. Sebagai anggota Santa Ana di Gereja Santo Yoseph Maumere kini sudah menjadi Gereja Katedral Keuskupan Maumere, Mama Maria Immaculata menghidupi spiritualitas pelayanan yang tulus. Namun, ia juga paham bahwa kebijakan publik memerlukan keterlibatan politik.
Kepercayaan besar yang diberikan kepadanya sebagai Bendahara DPD Partai Golkar Kabupaten Sikka menjadi bukti nyata bahwa Mama Maria adalah sosok yang berintegritas, punya etos kerja yang handal dan dipercaya oleh publik, mampu bekerja sama, serta memiliki kepemimpinan yang disegani di ranah politik lokal.
Mahakarya Pendidikan: Integrasi Ilmu dan Iman
Dari semua peran yang baik dan terasa mengagumkan yang Mama Maria jalani, mahakarya terbesar Mama Maria terletak pada perjuangannya; ”Jalan Salibnya” sebagai Sang Motivator Besar dalam bidang pendidikan, baik untuk Gereja maupun Negara. Mama Maria adalah perwujudan dari keyakinan teguh bahwa ilmu pengetahuan dan penghayatan iman harus berjalan bersamaan serta saling melengkapi. Baginya, ”kecerdasan intelektual tanpa iman akan kehilangan arah, dan iman tanpa ilmu pengetahuan yang baik dan benar, akan kehilangan daya ubah.”
Prinsip hidup ini ditanamkan ketika anaknya memulai kuliah perdana di Program Magister Ilmu Politik (M.Si), Magister Manajemen Sumber Daya Manusia (M.M) dan Program Doktor Ilmu Politik di Universitas Indonesia.
Prinsip hidup ini terjelma dalam dua petuah yang terdengar konkrit dan menjadi pedoman kehidupan bagi sang anak yang kini telah menjadi profesor dalam bidang Ilmu Politik.
Pemikiran Politik, Pertama: dalam tugas apapun, baik untuk aktivitas kuliah, mengajar, maupun kegiatan iman di Gereja dan Negara, jalankan dengan setia, percaya, dan langkah pasti. ”Kedua; Jika bertemu dengan siapa pun, yang dengan latar belakang apa pun mulai dari teman sejawat hingga orang-orang kecil yang dijumpai di mana pun, di jalan-jalan sekalipun dengarlah keluhan mereka, berusahalah memahami dan memenuhi kebutuhan mereka sejauh bisa, agar mereka sedikitnya merasa nyaman dalam perjumpaan itu, dan hal ini tentu berdampak dalam hidupnya ke depan.”
Nasihat emas ini bukan sekadar kata-kata, melainkan cerminan dari pribadi Mama Maria sendiri. Sepanjang hidupnya, Mama dikenal sebagai sosok yang ”tak pernah marah dan semuanya baik”. Nasehatnya penuh damai dan membawa suasana hidup yang nyaman di tengah keluarga dan bagi siapa pun yang berada di dekatnya.
Melihat anaknya terus bertumbuh dalam meraih gelar Master Ilmu Politik (M.Si), di Universitas Indonesia dan Master Manajemen Sumber Daya Manusia (M.M), di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta, kemudian menuntaskan Doktor Ilmu Politik (Dr), di Universitas Indonesia hingga akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Politik.
Pemikiran Politik, semuanya itu adalah puncak kebahagiaan seorang ibu. Momen ketika Mama Maria hadir secara langsung di Universitas Pelita Harapan (UPH), menyaksikan jubah profesor yang dikenakan dan samir profesor dikalungkan kepada anaknya pada hari Senin, 20 April 2026, menjadi saksi bisu rasa bangga yang tak terkira.
Di gedung Grand Chapel UPH itu, air mata bahagia seorang ibu dari Woloboa-Flores membuktikan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi jika diperjuangkan dengan iman. Perwujudan keyakinan dari Mama Maria Imaculata Thodja sebagai seorang Sang Motivator Pendidikan untuk gereja dan negara dan buah dari ketekunan, tetesan keringat, dan doa-doa malamnya kini mewujud dalam diri sang anak, Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.Si., M.M., M.Ph.
Kehangatan Keluarga dan Kebanggaan Terhadap Cucu-Cucu
Di balik ketangguhannya di publik, Mama Maria adalah pusat kehangatan keluarga. Perjalanan hidupnya diselimuti oleh cinta-kasih yang luar biasa dari suaminya tercinta, Bapak Sebastianus Renggo, yang sangat menyayanginya. Pada masa-masa perjuangan melawan sakit, kebaikan hati keluarga terpancar nyata melalui kesetiaan sang menantu, Mariana Yunita, bersama Bapak Sebastianus dan adik Dominggo Adeodatus Seru serta keempat cucunya, dengan penuh kasih mengantar dan mendampingi Mama Maria Imaculata Thodja, untuk berobat di RSCM dan RS Sint Carolus Jakarta.
Penuh syukur dan bangga kepada Cucu-Cucunya. Kasih sayang Mama Maria kini memayungi generasi ketiga melalui empat orang cucunya yang tumbuh dalam cerdasnya teladan iman dan ilmu pengetahuan. Cucu Pertama: Maria Inviolata Denita Queentania, yang saat ini sedang menapak bangku kuliah Semester 1 jurusan Farmasi di Universitas Pelita Harapan (UPH). Cucu Kedua: Anna Maria Katarina Alena Sina, yang duduk di kelas 1 SMA Advent Salemba, Jakarta. Cucu Ketiga: Vincentius Xavier Seda, yang duduk di kelas 3 SMP Fransiskus Kampung Ambon, Jakarta. Cucu Keempat (Cucu Kesayangan): Gabriel Sebastiano Arthur Dominik (Arthur), yang kini duduk di kelas 1 SDK Melania 3 Jakarta Pusat. Arthur adalah sosok cucu yang sangat cerdas dan menjadi sumber kebahagiaan luar biasa bagi sang Oma.
Kenangan indah yang takkan terlupakan oleh Oma Maria Imaculata Thodja adalah ketika Arthur lulus TK Melania 3 Jakarta; Pada acara wisuda sekaligus perpisahan, dengan penuh keberanian Arthur mampu membacakan puisi dengan sangat baik dan lancar. Pada saat yang sama pun Arthur membawakan Acara Pesan Siswa (Kata Sambutan mewakili seluruh siswa).
Menyaksikan kecerdasan cucu kesayangannya di depan dalam ruangan acara, adalah momen kebahagiaan lahir-batin yang tiada tara bagi Mama Maria. Sebuah lingkaran kebaikan yang sempurna dari rahim perjuangan seorang ibu, mengalir restu yang melahirkan generasi-generasi berprestasi pembangun bangsa.
Kepulangan yang Suci dan Damai
Tuhan menjemput jiwa-jiwa yang setia dengan cara yang paling indah. Kepergian Mama Maria ke Surga pada 15 Agustus 2026 terjadi dengan sangat tenang dan sangat damai (saya menyaksikan sendiri dengan bangga-dalam kesaksian hidup dan iman). Adalah sebuah tanda kasih karunia yang nyata bahwa betul Mama Maria Imaculata Thodja, dipanggil tepat pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Ini adalah upah iman bagi seorang Ibu yang semasa hidupnya tak pernah meninggalkan doa Rosario setiap hari dan selalu setia mendaraskan doa kepada Yesus Kerahiman Ilahi pada jam tiga petang.
Untaian kebiasaan suci ini mengantarkan jiwanya menghadap takhta Allah dalam kepasrahan yang sempurna. Puji Syukur dan Terima Kasih, Tuhan. Atas anugerah kehidupan seorang Mama Maria Imaculata Thodja, yang begitu indah dan memberkati banyak orang.
Terima kasih, Mama. Tugasmu di dunia telah selesai secara paripurna-lengkap. Mama Maria Imaculata Thodja, AMD telah menanam benih-benih terbaik bagi Gereja, Negara, Masyarakat, dan Keluarga. Kini, masuklah dan beristirahatlah dalam kebahagiaan hidup kekal yang abadi. Berbahagialah bersama para Malaikat, semua orang Kudus, dan Allah Tritunggal yang Maha Kudus dalam Kerajaan Surga. Doa, dan segala nasihat yang sungguh nyaman, dan kasihmu akan selalu hidup dan menuntun langkah kami sekeluarga besar di mana pun berada, yang Mama tinggalkan. Bapak Sebastianus Renggo Sekeluarga di Jakarta, di kampung halaman dan teristimewah Woloboa-Flores, tempat kelahiran Mama. Mama Maria Imaculasta: Requescat in Pace, Rest In Piace, Beristirahatlah dalam Damai Karena Kerahiman Tuhan. Amin.(Oleh: Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.Si., M.M., M.Ph. Guru Besar Pemikiran Politik UPH )
