Berita-Cendana.Com- Kupang,- Pantai Kopan bukan sekadar panggung budaya. Ia adalah wajah Kota Tua, rumah bersama bagi beragam komunitas, dan warisan alam yang harus dijaga. Dalam Festival Pecinan Event Budaya Multi Etnis Kelurahan Lai-Lai Bisi Kopan (LLBK) yang digelar 4–5 September 2026, pesan kebersihan dan pelestarian lingkungan hidup disampaikan beriringan dengan pesan keberagaman dan harmoni.
Saat membuka festival secara resmi, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, S.H., mengaitkan keindahan budaya dengan keindahan lingkungan tempat kita hidup, Jumat, 4 September 2026.
"Kita merawat perbedaan agar hidup berdampingan dalam harmoni. Begitu juga kita merawat tempat ini. Pantai Kopan, Kota Tua Kupang agar tetap bersih, asri, dan membanggakan. Kebersihan bukan sekadar soal rapi atau tidaknya sampah. Itu cermin rasa hormat kita kepada sesama, kepada tamu, dan kepada tanah yang memberi kita kehidupan”.
Ia mengajak seluruh warga menganggap kawasan ini sebagai rumah bersama.
"Jadikan Kota Kupang ini rumah kita semua. Jika rumah kita kotor, kita yang malu. Jika rumah kita indah, kita yang bangga. Mari kita jaga kebersihan Pantai Kopan bukan hanya saat ada acara, tetapi setiap hari harus dijaga” beber Sekda Jeffry Pelt.
Jeffry juga menegaskan pengembangan kawasan Kota Tua harus menyertakan tanggung jawab lingkungan pariwisata yang tumbuh tanpa merawat alam akan kehilangan pesonanya.
Ketua Panitia Festival, Antoni Niti Susanto, menjelaskan bahwa pemilihan Pantai Kopan sebagai lokasi bukan sekadar sejarah, tempat ini juga harus tetap layak dikunjungi generasi mendatang.
"Kami ingin melestarikan budaya sekaligus memperkenalkan keindahan Pantai Kopan kepada wisatawan. Tetapi bagaimana orang akan datang kembali jika tempatnya kotor? Kebersihan adalah bagian dari pelestarian warisan. Ketika kita menjaga pantai ini bersih, kita juga menjaga nama baik budaya kita”.
Panitia menerapkan aturan selama kegiatan, setiap pengunjung diminta membawa sampah sendiri ke tempat pembuangan yang disediakan, tidak membuang apapun ke laut, dan memastikan lokasi kembali bersih setelah acara selesai.
Nilai-nilai yang ditampilkan dari tarian, nyanyian, hingga tradisi berbagai etnis mengandung pesan leluhur, alam adalah pemberian yang harus dihormati. Masyarakat asli Helong, komunitas Tionghoa, Arab, dan keturunan lain yang hidup berdampingan di LLBK memiliki satu kesamaan yakni tanah dan air adalah sumber kehidupan.
"Beragam adat, satu ajaran, ambil apa yang dibutuhkan, rawat apa yang diberi. Pantai Kopan memberi ikan, memberi naungan, memberi tempat berkumpul. Maka wajiblah kita menjaganya," ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Di tengah perayaan, kepedulian terhadap sesama tetap menyatukan semua yang hadir. Hening cipta digelar bagi korban gempa Flores. Sekda Jeffry menyampaikan bantuan Rp635 juta dari Pemkot Kupang telah disalurkan ke enam kabupaten, aksi nyata bahwa merawat sesama sama pentingnya dengan merawat lingkungan.
"Alam memberi, alam pun bisa mengambil. Karena itu kita harus peduli pada lingkungan sekaligus peduli pada mereka yang terkena dampak bencana. Solidaritas dan pelestarian alam berjalan beriringan," ujarnya.
"Merajut budaya dalam harmoni berarti juga merawat alam dalam kebersamaan. Pantai Kopan ini milik kita, jaga keindahannya, jaga kebersihannya, jaga masa depannya."(*).
