Kisah Guru Pedalaman di Papua, Mengabdi Dalam Keterbatasan Demi Kecerdasan Anak Bangsa

Berita-Cendana.com- Papua, - Menelisik jejak guru pedalaman di Papua yang mengabdi dalam beragam keterbatasan tepatnya di SD Negeri Amajaman kampung  Masin Distrik Obaa Kabupaten Mappi Provinsi Papua.


Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Begitulah bunyi slogan klasik yang acap kali disematkan kepada seorang guru ketika kisah perjuangannya dikenang.


Melihat sosok guru seperti melihat harapan yang menjanjikan bagi dunia ini. Kita pasti ingat ketika hancur nya Kota Nagasaki dan Hiroshima oleh bom Amerika. Jepang saat itu lumpuh total dengan korban meninggal mencapai jutaan, dan efek radiasi bom diperkirakan membutuhkan puluhan tahun untuk memperbaiki semuanya.


Ketika itu Kaisar Hirohito bertanya kepada sejumlah Jenderal yang masih hidup “Berapa jumlah guru yang tersisa?“.


 Jepang menjadi negara maju bangkit kembali hanya dalam kurun 20 tahunan, 50 tahunan lebih awal dari prediksi dunia. Sejarah ini menjadi bukti dan sebagai ilustrasi bahwa kemajuan sebuah bangsa, mutlak memerlukan peran guru.


Berbicara tentang guru adalah berbicara tentang masa depan, ketika guru itu baik maka dapat diambil kesimpulan bahwa generasi-generasi yang baik dan merdeka dari segala kebodohan akan segera lahir. Generasi yang baik tersebut akan senantiasa memberikan kontribusi yang luar biasa bagi dirinya, keluarganya, bangsanya, serta negaranya.


Kilas ulasan di atas adalah pengantar singkat untuk menelisik jejak guru pedalaman di Papua yang mengabdi dalam beragam keterbatasan tepatnya di SD Negeri Amajaman kampung  masin Distrik Obaa Kabupaten Mappi Provinsi Papua.


Dia adalah Desiderius Kanisius Usfinit S. Pd. Putra asal NTT, Desa Wehali Kabupaten Malaka, merupakan Putra pertama dari pasangan Bapak Yohanes Usfinit dan Ibu Yosefina Sanan. Jejak kisahnya sebagai guru daerah terpencil di Papua cukup menarik bila ditelisik.


Kisahnya bahwa, sejak  mengabdi di tempat tugas, Ia bersama teman gurunya  Lukman Karsito, asal dari Jawa Tengah, Kabupaten Tegal, banyak keterbatasan yang mereka temui. 


Mulai dari akses jalan, perbedaan budaya dan minimnya fasilitas belajar-mengajar di sekolah yang menjadi tempat tugas mereka.


Lanjut Putra pertama dari 4 bersaudara itu, menjadi seorang guru penggerak daerah terpencil sangatlah susah dan tidak semudah yang kita bayangkan. Hanya butuh orang-orang yang memiliki keberanian dan dedikasi yang tinggi untuk berjuang mencerdaskan generasi Bangsa.


Lanjut mantan ketua Ikatan Mahasiswa Malaka (IMMALA )Kupang itu,  yang juga alumni UNWIRA Kupang itu, apa lagi keadaan Papua saat ini banyak problem yang menjadi sumber ketakutan bagi orang-orang Papua terkhusus bagi orang baru seperti kami.


Kehidupan di daerah pedalaman banyak hal yang dirasakan, mulai dari kondisi geografis kampung yang sangat jauh dari kota, bahan-bahan makanan yang harganya mahal.


Kanis menambahkan bahwa,  makan minum di kampung hanya bermodalkan sagu yang merupakan makanan pokok di tempat ia mengabdi.


 Walaupun demikian, kondisi sosial masyarakat Papua terlebih khusus suku Auwiu mereka baik-baik semua. Perhatian terhadap guru sangatlah tinggi. Ketika mereka ada uang sering juga mereka memberikan kepada kami tanpa terpikirkan bahwa uang yang mereka dapat hanya bisa membeli beras yang harga 100 ribu tidak sampai 10 kg. 


 Jika kita berbicara soal interaksi sosial maka Kanis yakin bahwa, masyarakat Papua sosialnya sangat tinggi terhadap sesama. 


Masyarakat juga sangat percaya terhadap guru. Apa yang guru bicarakan pasti mereka perbuat.


 Pada tahun 2019 bulan November, para guru ini menginjakan kaki di tempat tugas khususnya kampung Masin, sejumlah hal yang harus dipelajari, mulai dari karakteristik masyarakatnya sampai pada karakter anak-anak didik. Banyak hal yang dilihat, menuntut guru untuk berusaha merubah itu.


"Contohnya soal manajemen keuangan, masyarakat yang mendapatkan uang 1 juta bahkan sampai 10 juta bisa dihabiskan dalam satu hari. Ini yang membuat saya dan partner kerja saya membimbing mereka untuk bisa manajemen keuangan dengan baik". 


Hal ini juga selalu disampaikan kepada anak-anak didik agar mereka kelak tidak boleh melakukan hal serupa.


Puji Tuhan sejak mengabdi di Sekolah ini ada perubahan yang terlihat dalam diri anak-anak didik.


 Karakter anak-anak didik yang awalnya sangat kacau tapi dengan kehadiran kedua orang guru itu, terlihat sekarang sudah mulai baik. Guru berdua adalah guru perintis di kampung tempat tugas mereka. Banyak hal yang telah mereka lakukan, pertama soal kegiatan belajar mengajar, mulai dari nol dan administrasi juga mulai dari nol. Ungkap Kanis Usfinit.


Gedung sekolah hanya beratap alang-alang, mereka belajar seadanya saja. Guru berdua itu bermodalkan semangat dan kerja keras, karena mereka  yakin bahwa dipanggil untuk melayani demi Nusa dan Bangsa.


Kanis menjelaskan tentang sepenggal kisah mereka saat awal tiba di tempat pengabdian.

 

Ia bersama rekan gurunya diberangkatkan paling terakhir ke tempat tugas, mengingat beberapa kendala yang dialami seperti keterbatasan rumah guru di tempat tugas . 


Mereka diberangkatkan ke tempat tugas secara tiba-tiba sehingga barang-barang dan persiapan  makanan tidak membawanya. Jalan dengan seadanya. Ketika Sampai di tempat tugas, mereka langsung dijemput oleh masyarakat dan anak-anak sekolah. Lebih menarik lagi, makan malam mereka hanya dengan dua potong sagu dan Ikan Betik / na'an bulan (Bahasa Malaka) menahan perut hingga pagi.


Harapannya, sebagai guru pedalaman di Papua, pemerintah harus lebih serius memperhatikan Papua terkhusus dalam bidang pendidikan. Mulai dari pengadaan tenaga pendidik dan pengadaan fasilitas belajar-mengajar. 


Mereka yakin bangsa ini akan lebih maju jika kualitas pendidikan ditingkatkan di seluruh pelosok Negeri ini terkhusus di Negeri Cendrawasih. Salam NKRI harga mati.(***).

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Subscribe Us

Responsive Ad Slot