Berita-Cendana.Com - Waingapu,- Success Story hari kemarin dan hari ini Pabrik pengolahan rumput laut PT. Algae Sumba Timur Lestari sejak tahun 2018 hingga 2023, dengan hari ini yang dimulai dari tahun 2024 hingga 2026. Pengelolaan barang menta menjadi barang setengah jadi kemudian dikirim ke luar daerah.
Demikian penelusuran tim wartawan belum lama ini di lokasi pabrik rumput laut PT. Algae Sumba Timur Lestari yang terletak di wilayah Desa Tanamanang, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Keberhasilan pabrik pengolahan rumput laut PT. ASTIL di tahun 2018 hingga 2023 tak bisa dihindari. Disaksikan melalui pengiriman barang setengah jadi perbulan sekitar 3 tronton. 3 tronton itu dikalkulasikan mencapai 48 ton per bulan.
Permintaan tinggi sehingga membuka peluang baru untuk meningkatkan pendapatan pabrik. Pemasukan rumput laut dari setiap pengepul baik di dalam Wilayah Sumba Timur maupun di luar Daerah ke- PT. Astil sangat tinggi karena PT. ASTIL selalu menjaga kepercayaan masyarakat pengepul dengan cara memberikan uang tanda jadi (DP) kepada pengepul sehingga rumput laut di wilayah NTT semua masuk ke PT. ASTIL untuk diproduksi menjadi Chips sebelum dikirim ke Surabaya dan Cina.
Pabrik PT. Astil dalam menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan pengepul sehingga pemasukan rumput laut ke PT. Astil meningkat tinggi untuk diproduksi menjadi chips rumput laut kurang lebih 6 ton per hari.
Perusahan memproduksi rumput laut tersebut yang siap dipasarkan ke beberapa perusahaan dalam negeri dengan sekali pengiriman sejumlah 48 ton.
Dalam keberhasilan produksi dan siap dikirim ke pasaran maka PT. Astil melakukan mobilisasi dengan menggunakan 3 tronton dari PT. Astil ke kontrakan dengan jarak kurang lebih puluhan kilometer meter bahkan mencapai ratusan KM yang berada di wilayah Kelurahan Hambala, Kecamatan Waingapu, dengan tujuan dekat pelabuhan.
Hal tersebut berjalan dengan baik dan sesuai dengan SOP PT. Astil sehingga mampu meraup keuntungan besar bagi PT, Astil, Pemda Sumba Timur dan Masyarakat pengepul. Harus ada tempat yang steril dan tak boleh jauh dari pelabuhan agar dapat menghemat waktu dan menghemat biaya.
Dari hasil penelusuran tim wartawan pada pekan lalu di lokasi PT.Astil, dan berhasil mendapatkan informasi bahwa dari tahun 2024 hingga tahun 2026 pemasukan rumput laut dari pengepul PT. Astil menurun karena tidak lagi ada kerjasama yang baik dengan para pengepul seperti tahun-tahun yang lalu sehingga para pengepul bebas menjual hasil rumput laut ke PT lain. Jadi kondisi hari ini dalam sebulan mengirim 1 tronton dengan jumlah 16 ton pun pabrik tidak mampu menjawab kebutuhan padahal permintaan masih tetapi tinggi.
Sumber terpercaya internal PT. Astil menyampaikan bahwa dengan kebijakan baru di tahun 2024-2026, para pegawai bekerja tidak normal seperti tahun-tahun sebelumnya bahkan dalam seminggu pegawai harian harus diliburkan beberapa hari karena stok rumput laut kosong. Kosong bukan barang mentah tidak ada tapi strategis kurang sehingga masyarakat jual bebas kepada perusahaan lain karena tanpa ikatan pasti.
Pantauan tim wartawan di lokasi PT. Astil tersebut terlihat jelas dimana ruang yang digunakan untuk timbangan hasil rumput laut dari pengepul diperkirakan barang tak mencapai 2 ton bahkan ruang penyimpanan rumput laut yang siap diproduksi tidak seperti dulu.
Terpantau jelas, mesin rebusan rumput laut berjumlah tiga namun hanya 1 saja yang digunakan. Mesin pencucian berjumlah 6 mesin namun hanya 2 mesin yang digunakan, sedangkan 4 lainnya nganggur begitu saja karena bahan baku sangat kurang. Mesin yang siap digunakan baik dari pencucian dan pembersihan semuanya tidak dapat digunakan karena kekurangan stok rumput laut yang masuk ke PT. Astil Sumba Timur. Jujur saja bahwa PT. ASTIL hari ini berjalan tidak stabil.
PT. Algae Sumba Timur Lestari dari tahun 2024 hingga saat ini tidak mampu menjawab permintaan perusahaan dalam negeri karena kurangnya pemasukan rumput laut dari pengepul. Sehingga dalam sebulan pun tak mampu mengirim satu tronton, karena satu tronton itu 16 ton lebih, jadi pendapatan pun tentunya menurun. (*).

Posting Komentar