OPINI: Benarkah Bahasa Indonesia Mudah Dipelajari?

Berita-Cendana.Com- Jakarta,- Ada anggapan bahwa Bahasa Indonesia lebih mudah dipelajari dibandingkan bahasa-bahasa asing lainnya. Secara umum penulisan bahasa Indonesia tidaklah sulit karena bahasa Indonesia menggunakan alfabet Latin dan pelafalannya juga sesuai dengan tulisan alfabetnya. Jadi, tidak ada perbedaan antara pengucapan dengan tulisan seperti yang biasa ditemui dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. 

Ini adalah salah satu faktor selain tata bahasa yang membuat orang Indonesia sulit mempelajari bahasa Inggris.  Di lain pihak ini merupakan kemudahan bagi penutur asing yang akan belajar bahasa Indonesia. Namun, apa memang benar  bahasa Indonesia jauh lebih mudah dipelajari dibandingkan bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya?  

Ketika seseorang mempelajari sebuah bahasa, tidaklah dapat dilepaskan dari konteks geografis dan budayanya.  Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan secara geografis dengan implikasi beragam budaya daerah dan bahasa daerahnya. Indonesia memiliki 718 bahasa daerah dan hampir separuhnya ada di Papua. Namun demikian, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) bahasa Jawa  tercatat sebagai bahasa daerah yang memiliki penutur paling banyak yaitu 80 juta orang. Jumlah ini kurang lebih 42 persen populasi Indonesia yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. 

Biasanya orang-orang yang tinggal di desa atau kota kecil bahasa daerah menjadi bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari. Jadi, penggunaan bahasa tidak dapat dilepaskan dengan konteks geografis dan budayanya. Selain bahasa Jawa masih banyak lagi bahasa daerah lainnya di berbagai tempat di Indonesia yang tentunya juga memiliki variasi/dialek yang beragam yang hanya orang lokal saja yang dapat mengerti dan menggunakannya dengan baik. 

Beragamnya bahasa dan budaya di berbagai daerah di Indonesia memberikan tantangan tersendiri bagi orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia. Secara umum orang Indonesia adalah bilingual karena menguasai dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Bahkan bagi Sebagian orang yang tinggal di daerah bahasa ibu mereka adalah bahasa daerah dan bahasa keduanya adalah bahasa Indonesia. Bahasa daerah digunakan dalam percakapan sehari-hari di daerah dan bahkan menjadi praktik umum bagi orang Indonesia untuk berbicara bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa daerah. 

Contohnya orang Jakarta yang berkunjung ke Yogyakarta, ketika mereka ke pasar setempat, mereka akan mendengar orang-orang lokal berbicara bahasa Jawa di antara mereka dan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa ketika berbicara dengan pendatang atau wisatawan dari daerah lainnya. Fenomena ini juga terjadi jika orang-orang Indonesia berkunjung di daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki bahasa daerah yang berlainan. 

Orang asing yang belajar bahasa Indonesia pada umumnya mempelajari bahasa Indonesia baku di kelas. Namun, ketika mereka berinteraksi dengan orang lokal, mereka mengalami kesulitan untuk mengerti variasi bahasa informal yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Jika orang asing berbicara dengan bahasa baku/formal dalam komunikasi sehari-hari,  kesannya tidak natural. Sebagai contoh  orang Indonesia yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya sangat terbiasa menggunakan dialek Jakarta dalam komunikasi sehari-hari. Bagi orang asing dialek Jakarta, meskipun ada kemiripan dengan bahasa Indonesia, seperti bahasa lain yang berbeda dengan bahasa Indonesia yang dipelajari di kelas.

Jika mereka berwisata ke daerah lain di Indonesia seperti Yogyakarta dan Bali yang merupakan destinasi wisata yang populer, mereka pasti juga akan mengalami kesulitan yang sama ketika mereka di Jakarta. Bagi orang asing yang mau tinggal di Indonesia dan belajar bahasa Indonesia, tidak cukup hanya belajar bahasa Indonesia baku di kelas. Mereka perlu mempelajari bahasa informal dan dialek bahasa lokal di mana mereka berada agar dapat berinteraksi dengan leluasa dan natural dengan orang lokal. Bagi orang asing bahasa informal dan dialek bisa jadi merupakan dua variasi bahasa yang berbeda dan ini menjadi kesulitan serta tantangan tersendiri bagi mereka. 

Selain variasi bahasa komunikasi di antara orang Indonesia juga diwarnai dengan  penggunaan singkatan dan akronim yang sangat masif dan sudah menjadi kosakata sehari-hari.  Singkatan sangat umum sekali digunakan, misalnya SMP, KTP, SIM, KK, PLN, DPR, dll.  Dalam komunikasi di media sosial singkatan seperti HP, WA, SMS, OTW, FYI serta akronim  sehari-hari seperti baper, bucin, japri, mager, maksi, mantul, gercep, dan masih banyak lagi. Untuk orang yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya mereka wajib mengetahui singkatan dan akronim nama tempat seperti PIM (Pondok Indah Mal), GI (Grand Indonesia), Jakpus (Jakarta Pusat), Tangsel (Tangerang Selatan), Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Bekasi), dan lain lain. Belum lagi banyak sekali instansi pemerintah yang menggunakan singkatan dan akronim di media massa  seperti BPJS, KPU, Pemilu, Polri, Kemenko Polhukam, dan lain lain.  Kadang-kadang orang Indonesia sendiri ada yang tidak mengetahui kepanjangan singkatan atau akronim yang mereka temui ketika membaca atau mendengarkan berita di media massa. Bagi orang Indonesia fenomena penggunaan singkatan dan akronim sudah diterima sebagai bagian komunikasi sehari-hari mereka. 

Selain kesulitan memahami singkatan dan akronim bahasa Indonesia, pembelajar asing juga mengalami kesulitan dalam hal code switching atau berganti (variasi) bahasa yang sering dilakukan oleh orang Indonesia dalam komunikasi sehari-hari. Sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA), penulis banyak mendengar keluhan pemelajar BIPA yang mengalami kesulitan ketika berinteraksi dengan orang Indonesia. 

Hal ini dapat dipahami karena dalam komunikasi sehari-hari orang Indonesia jarang menggunakan bahasa formal/baku seperti yang mereka pelajari di kelas. Orang Indonesia sering bercampur kode/bahasa antara bahasa Indonesia baku dan non-baku serta dialek bahasa lokal. Bagi orang Indonesia praktik ini sudah menjadi keseharian mereka. Namun, bagi pemelajar BIPA, praktik ini memberikan kesulitan dan tantangan tersendiri. Jika mereka ingin berkomunikasi sehari-hari  dengan orang-orang lokal, mereka dituntut untuk mempelajari  bukan hanya bahasa formal tetapi juga bahasa non-formal dengan variasi bahasanya, singkatan, dan akronimnya. 

Jadi, pemahaman tentang bahasa Indonesia lebih mudah dipelajari dibandingkan bahasa asing lainnya tidaklah sepenuhnya benar. Kemudahan mempelajari bahasa asing tidak hanya ditinjau dari kompleksitas tata-bahasa, kosakata, dan pelafalannya saja. Keragaman variasi bahasa yang ada di Indonesia karena letak geografis, budaya, dan fenomena sosialnya menjadi tantangan tersendiri bagi pembelajar asing. Oleh karena itu, kita sebagai orang Indonesia patut bangga dengan kekayaan budaya dan keragaman bahasa Indonesia. Bagi orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia tidaklah harus berkecil hati karena orang Indonesia adalah orang yang ramah dan dengan senang hati  membantu orang asing yang ingin mempelajari bahasa Indonesia. 

Penulis: Dosen Bahasa Inggris Universitas Pelita Harapan, Jakarta



0/Komentar/Komentar

Lebih baru Lebih lama

Responsive Ad Slot

Responsive Ad Slot