OPINI: Merah Putih Harus Berkibar, Tapi Kemerdekaan Dirayakan untuk Siapa?

Berita-Cendana.Com- TTS,- Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 patut dirayakan. Bendera Merah Putih patut berkibar. Semangat nasionalisme harus terus hidup. Namun di tengah kemeriahan seremonial yang menyelimuti seluruh penjuru negeri, ada satu pertanyaan mendasar yang semakin mendesak untuk dijawab: Kemerdekaan ini sebenarnya dirayakan untuk siapa?

Ketika kita melihat data dan kenyataan di lapangan, perayaan kemerdekaan itu justru terasa semakin ironis.

FAKTA DI BALIK SEREMONI: ANGKA YANG TAK BISA DIPUNGKIRI

Kemiskinan yang Masih Menggunung

- Di Provinsi NTT saja, 1,03 juta orang masih hidup di bawah garis kemiskinan, atau setara 17,50% dari total penduduk. Angka ini menempatkan NTT sebagai salah satu dari enam provinsi termiskin di Indonesia.

- Di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), 168.265 jiwa masuk kategori miskin ekstrem dari total 459.600 penduduk. Artinya, hampir 1 dari 3 warga TTS hidup dalam kemiskinan yang paling parah.

- Bahkan pada periode Maret 2026, jumlah penduduk miskin di perdesaan NTT justru meningkat sekitar 8.700 jiwa dibandingkan September 2025. Sementara kegiatan seremonial terus berjalan dengan anggaran yang tak sedikit.

Stunting: Satu dari Dua Anak Terancam

- Di TTS, angka prevalensi Stunting sempat menyentuh 56,8%, artinya lebih dari separuh balita mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis .

- Data terbaru 2025 menunjukkan TTS masih memimpin angka Stunting tertinggi di NTT sebesar 41,3% atau 11.792 balita menderita Stunting .

- Ini berarti disaat pejabat berbaris dengan pakaian baru dan atribut lengkap, hampir separuh anak-anak di TTS tumbuh terhambat fisik dan kecerdasannya, bukan karena mereka malas, tapi karena mereka lahir di tempat yang belum merdeka dari kemiskinan dan kelaparan.

Air Bersih Masih Menjadi Barang Mewah

- Di TTS, hanya 75,48% rumah tangga yang memiliki akses air minum layak, dan sanitasi layak hanya 70,72% .

- Ribuan warga harus berjalan kaki berjam-jam setiap hari hanya untuk mendapatkan seember air. Sementara di gedung-gedung pemerintahan, air mengalir tanpa henti untuk mencuci tangan pejabat sebelum upacara.

- Banyak desa di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) bahkan belum menikmati listrik 24 jam. Kampung Noemuke di TTS baru merasakan listrik penuh tahun 2026.  81 tahun setelah merdeka.

 Pendidikan yang Belum Merata

- Jalan rusak, jarak jauh, dan kemiskinan memaksa ribuan anak di pelosok NTT untuk berhenti sekolah sebelum tamat. Perkawinan usia dini masih menjadi jalan keluar bagi banyak remaja perempuan di daerah terpencil.

- Di beberapa desa, anak-anak harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer bolak-balik ke sekolah, tanpa sarapan, tanpa bekal, hanya untuk duduk di kelas yang atapnya bocor dan lantainya tanah.

IRONI ANGGARAN: SEREMONIAL DI ATAS KEKURANGAN

Sementara rakyat masih bergulat dengan kebutuhan dasar, anggaran perayaan HUT RI justru terus membengkak:

- Sebuah kabupaten di Jawa menghabiskan Rp 841 juta hanya untuk upacara HUT RI,  di mana Rp 200 juta di antaranya untuk belanja pakaian Paskibraka dan pengawal.

- Kabupaten lain menganggarkan hampir Rp1 miliar untuk perayaan kemerdekaan. Angka yang cukup untuk membangun puluhan titik air bersih atau memberi makan ribuan balita gizi buruk selama berbulan-bulan.

- Di tingkat pusat, anggaran upacara kemerdekaan pernah mencapai Rp 87 miliar di IKN,  sebuah angka yang jika dialihkan bisa menyelamatkan ribuan anak dari Stunting di seluruh NTT.

Di tingkat daerah, di tengah masyarakat yang kesulitan, proposal kegiatan HUT RI di beberapa kecamatan tercantum anggaran Rp12 juta hanya untuk belanja baju panitia, uang yang sama yang bisa digunakan untuk membeli beras bagi 300 keluarga selama sebulan.

KEMERDEKAAN BUKAN LOMBA PAKAIAN BARU

Gerak jalan, upacara bendera, dan perayaan kemerdekaan itu penting. Tetapi ketika seremoni itu justru memamerkan kemewahan di tengah kemiskinan, ia berubah menjadi penghinaan terhadap makna kemerdekaan itu sendiri.

Kemerdekaan bukan dirayakan dengan:

- Pakaian baru bermerek untuk pejabat, sementara rakyat tak mampu beli beras

- Panggung megah dan dekorasi mahal, sementara anak-anak tak punya sekolah layak

- Lomba pamer atribut dan penampilan, sementara 1 dari 2 anak menderita Stunting

-  Pesta makan-makan yang dihadiri segelintir orang, sementara banyak warga makan seadanya

Kemerdekaan yang sejati dirayakan ketika rakyat merasakan kebebasan dari kelaparan, kebebasan dari kebodohan, kebebasan dari penyakit, dan kebebasan dari ketidakberdayaan.

 TANTANGAN UNTUK KITA SEMUA

81 tahun merdeka. Bendera sudah berkibar di seluruh pelosok negeri. Tetapi kemerdekaan itu belum sempurna selama masih ada rakyat yang:

- Berjalan berjam-jam demi seember air

- Anaknya tumbuh kerdil karena kurang gizi

- Putus sekolah karena tak mampu bayar biaya

-  Tinggal di rumah bocor saat hujan dan panas saat kemarau

- Merasa pemimpinnya lebih peduli penampilan daripada nasib rakyat

"Jangan sampai kita merayakan kemerdekaan rakyat, tetapi melupakan rakyat yang merdeka itu sendiri."

Uang yang dihabiskan untuk pakaian seremonial yang berlebihan, kostum yang hanya dipakai sekali, dan dekorasi yang dibuang setelah acara, itu bukan biaya kemerdekaan. Itu adalah pemborosan di atas penderitaan saudara-saudara kita yang belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Mulai tahun depan, mari kita ubah cara merayakan kemerdekaan. Kurangi seremoni, perbanyak karya. Alihkan anggaran pakaian mewah untuk membangun sumur, memperbaiki sekolah, memberi makan anak-anak yang kurang gizi. Itulah perayaan kemerdekaan yang sesungguhnya,  bukan dengan pakaian baru, tapi dengan hati yang baru untuk melayani rakyat. (Penulis adalah wartawan Mata Timor  TTS Rhey Natonis).


0/Komentar/Komentar

Lebih baru Lebih lama

Responsive Ad Slot

Responsive Ad Slot