Berita-Cendana.Com- Kupang,- Festival Budaya Kelurahan Oeba ke-2 bukan sekadar panggung tarian, nyanyian, dan busana adat. Di balik kemeriahan, tersemat satu pesan mendalam yakni lingkungan yang bersih adalah bagian dari warisan budaya yang harus dijaga.
Mengusung tema “Jejak Leluhur, Semangat Masa Kini”, acara yang digelar Rabu (16/9/2026) di Halaman Kantor Lurah Oeba ini menegaskan budaya dan lingkungan hidup tumbuh beriringan. Tidak ada kebudayaan yang luhur di tengah lingkungan yang kotor.
Walikota Kupang, dr. Christian Widodo, yang membuka acara secara resmi, mengingatkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan sama maknanya dengan menjaga warisan leluhur.
“Kita bangga dengan keberagaman budaya di Oeba, tetapi kebanggaan itu belum utuh jika selokan masih tersumbat, jalan masih berantakan, dan sampah masih berserakan,” ujarnya.
Ia menegaskan pesan kunci yang berlaku untuk keduanya, budaya bukan milik kita untuk dihabisi, melainkan pinjaman dari anak cucu. Demikian pula lingkungan hidup.
“Kalau kita menyadari ini pinjaman, maka kita menjaganya sebaik-baiknya. Karena suatu hari anak cucu akan memintanya kembali baik budayanya maupun tanah, air, dan udaranya,” tegas dr. Christian.
Kaitan antara keduanya terlihat nyata selama festival berlangsung. Setiap sudut lokasi dilengkapi tempat sampah yang disiapkan panitia bersama Karang Taruna Oeba. Penjual di pasar UMKM diajak meminimalkan plastik sekali pakai, agar kemeriahan tidak meninggalkan tumpukan sampah.
Usai acara, warga bergotong royong membersihkan lokasi, demi halaman kembali rapi seolah tidak ada kegiatan besar.
Ketua Panitia, David C. Octovianus, menjelaskan: “Kebersihan sudah kami masukkan ke dalam rencana sejak awal. Kami tidak ingin festival ini indah sesaat, lalu meninggalkan kekacauan. Itu bukan budaya kami".
Bagi warga Oeba, menjaga kebersihan bukan sekadar aturan melainkan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Oeba dikenal sebagai miniatur Kota Kupang karena beragam etnis, agama, dan suku hidup berdampingan. Di sinilah makna kebersihan menjadi lebih luas, menjaga lingkungan berarti menghormati sesama warga.
“Ketika kita membuang sampah sembarangan, yang terkena dampaknya bukan hanya kita sendiri tetapi tetangga, anak-anak yang bermain, warga Oeba semua. Menjaga kebersihan adalah bentuk penghormatan kepada sesama, dan itu adalah budaya yang paling tinggi,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang hadir.
Semangat ini sejalan dengan gerakan Pemkot Kupang: “Sampahmu, Tanggung Jawabmu.” Di Oeba, pesan itu bukan sekadar seruan ia diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Festival telah usai, namun pesannya tetap tertinggal, budaya yang kuat tumbuh di lingkungan yang sehat.
Karnaval busana etnis, tarian daerah, dan pasar produk warga memancarkan kekayaan Oeba. Namun yang lebih berharga adalah kesadaran yang tumbuh bersama, kebersihan bukan tugas lurah atau petugas kebersihan saja, melainkan tugas setiap warga.
Sebagaimana dikatakan Walikota: “Kepada anak cucu nanti, kita tidak hanya mewariskan tarian dan lagu. Kita juga mewariskan tanah yang bersih, air yang jernih, dan udara yang sehat. Itulah warisan paling lengkap dari Oeba.”(*).
