Berita-Cendana.Com- Kupang,- Sebuah karya yang merekam jejak hidup dan pengabdian Romo Dr. Leonardus Mali diluncurkan dalam acara Bedah Buku bertajuk “Bergerak dari Pinggiran”. Buku ini menyajikan kesan-kesan mendalam dari orang-orang yang pernah dibimbing, didampingi, dan dihidupkan semangatnya oleh Romo Leo, panggilan akrab beliau selama puluhan tahun melayani umat, terutama mereka yang berada di pinggiran kehidupan.
Acara berlangsung hangat dan penuh haru, dipandu oleh Beverly Rambu sebagai moderator, dengan para penulis dan pemberi kesan. Asti Laka Lena, Liliya Watangterah, Martinus Ora, Maria Dolorosa Bria, serta narasumber lainnya. Kegiatan berlangsung di Rumah Jabatan Walikota Kupang pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Asti Laka Lena membuka kesan dengan tulus. Baginya, Romo Leo Mali bukan sekadar pemimpin rohani, melainkan sosok yang selalu hadir di saat-saat sulit.
“Romo Leo adalah legenda yang selalu hadir saat kita susah, saat kita galau. Beliau selalu memberi semangat, selalu memberi jalan keluar di setiap kita membutuhkan” jelasnya.
Liliya Watangterah menegaskan peran Romo sebagai kekuatan dalam perjuangan kemanusiaan. Beliau dikenal tidak ragu turun ke jalan, mendampingi aktivis, dan memperhatikan mereka yang sering dilupakan.
“Romo adalah penjaga iman. Beliau pernah memindahkan jenazah dari ruang kargo ke ruang VIP atas permintaan aktivis. Bagi beliau, pastoral bukan hanya di dalam gereja melainkan kepada mereka yang sering dilupakan, termasuk para aktivis.”
Liliya menegaskan, Romo Leo mempraktikkan pastoral publik, melayani di jalanan, di pinggiran, di tempat yang jarang dijangkau.
Martinus Ora mengenang masa muda Romo Leo. Sosok yang dikenal tampan dan cerdas itu justru memilih jalur pengabdian yang tak terduga.
“Leo masuk jurusan IPA-Fisika. Namun uniknya, beliau tidak memberi rekomendasi untuk masuk Seminari Tinggi Ritapiret maupun Ledalero. Justru menjadi angkatan pertama Seminari Oepoi, lalu menjadi imam pertama dari sana.”
Bagi Martinus, ini membuktikan bahwa panggilan menjadi imam adalah misteri. Hari ini, Romo Leo Mali merayakan 30 tahun imamat, bukti kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Maria Dolorosa Bria menyampaikan pesan yang tertanam kuat “Apa yang berasal dari Tuhan akan bertahan untuk Tuhan.”
Ia mengenang peristiwa tahun 2010 di wilayah Liliba. Seorang warga tergeletak di jembatan, terlantar. Romo Leo tidak berpaling ia membawa orang tersebut ke rumah sakit, lalu menunggu di sana hingga keluarga datang.
“Romo adalah misteri. Beliau keluar dari tembok gereja, berani ‘mengotori’ diri demi menolong sesama. Itulah gembala sejati,” ungkap Maria.
Alex Ofong menambahkan: “Romo Leo Mali adalah gembala yang baik.”
Dion Putra, Pemred Pos Kupang, yang turut menyunting buku ini, mengungkapkan bahwa setiap baris tulisan lahir dari perasaan yang tulus.
“Tulisan ini terasa begitu muda, karena lahir dari sentuhan hati para penulis. Selama proses penyuntingan, saya pun tak jarang terharu dan menangis.”
Dion juga mengingat jejak kepemimpinan Romo sejak masa sekolah, belajar memimpin rapat saat menjadi Ketua OSIS di SMP Santu Yosep Kupang, dibina oleh Danial Hurek. Karakter melayani dan memimpin dengan hati telah tumbuh sejak dini.
Romo Dr. Leonardus Mali menyampaikan rasa syukur yang mendalam. “Mengenal umat adalah kado terindah. Saya merasa kaya — bukan dalam harta benda, melainkan dalam nilai-nilai hidup yang kita bangun bersama.”
Beliau mengucapkan terima kasih kepada panitia, Gubernur NTT, Wali Kota Kupang, para guru, serta seluruh sahabat dan umat yang mendampingi perjalanan pelayanannya. Romo juga menyampaikan apresiasi kepada PMKRI yang hadir dengan cara khas mereka, namun selalu hadir dan membantu.
Hadir dalam acara tersebut Gubernur NTT, Walikota Kupang, para guru dan teman-teman masa sekolah, serta masyarakat yang selama ini didampingi Romo Leo.
Buku “Bergerak dari Pinggiran” bukan sekadar kisah satu orang. Ia adalah cermin bahwa pelayanan yang sejati lahir di tempat-tempat yang sering diabaikan, bahwa gembala yang baik adalah yang berjalan bersama kawanan, bahkan di jalan yang terjal.(*).
