Iklan

Politik

Budaya yang Hidup di Lingkungan yang Bersih dan Asri

, Oktober 03, 2026 WIB Last Updated 2026-10-03T05:52:54Z

Berita-Cendana.Com- Kupang,- Merawat warisan budaya tak terpisahkan dari menjaga bumi tempat budaya itu tumbuh. Inilah pesan mendalam yang dibawa Festival Budaya Kelurahan Manulai II, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Kegiatan berlangsung 1–3 Oktober 2026, tidak hanya menampilkan kekayaan seni, tetapi menjadikan lingkungan hidup dan kebersihan sebagai inti dari pelestarian budaya.

Acara dibuka Camat Alak Amramsius Yolah, S.Sos. mewakili Wali Kota Kupang, di halaman Kantor Kelurahan Manulai II.

Sejak hari pertama, panitia menempatkan dua tong sampah di pintu masuk serta menyediakan roda tiga pengangkut sampah yang siap sedia setiap saat. Bukan sekadar kelengkapan acara, ini adalah pernyataan, kebersihan adalah bagian dari tata krama dan budaya yang beradab.

“Kita mewariskan tarian, tutur, dan adat istiadat. Tapi warisan paling nyata adalah bumi yang bersih, air yang jernih, dan udara yang sehat. Jika lingkungan rusak, tempat budaya hidup pun hilang.”

 

Salah satu kegiatan yang paling bermakna adalah Lomba Busana Daur Ulang. Anak-anak dan generasi muda diajak mengubah bahan bekas menjadi karya indah pelajaran berharga. 


-Sampah yang dikelola bukan beban, melainkan peluang

- Cinta lingkungan bisa diwujudkan lewat kreativitas

- Menjaga keindahan kota dimulai dari tidak membuang sampah sembarangan

 

“Kami ingin anak-anak bangga dengan lingkungannya. Mencintai Kota Kupang berarti menjaganya tetap bersih dan asri,” ujar panitia.

 

 Tanah yang Hijau, Persatuan yang Kuat, Dalam sambutannya, Camat Alak menekankan bahwa keberagaman budaya di Kupang harus diiringi dengan tanggung jawab merawat alam.

 

“Kota Kupang adalah rumah kita bersama. Rumah yang baik bukan hanya indah budayanya, tapi bersih lingkungannya. Leluhur kita menjaga hutan, sungai, dan tanah,  tugas kita meneruskan semangat itu,” tegas Camat Amramsius Yolah.

 

Ia mengajak seluruh warga mendukung program Biopori di 12 kelurahan se-Kecamatan Alak, menanam, merawat tanah, mengurangi sampah organik, dan menciptakan lingkungan yang sehat.

 

“Pemerintah saja tidak cukup. Saat kita bergandengan tangan menanam pohon dan memungut sampah bersama, tanah yang kering pun bisa kembali hijau. Perubahan dimulai dari diri sendiri, dari depan rumah kita,” tambahnya.

 

Tiga Pesan untuk Lingkungan. Festival ini menyampaikan pesan sederhana namun kuat,  Lingkungan Bersih, Budaya yang Hidup

Kebersihan bukan sekadar aturan, melainkan nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Kebersihan Tanggung Jawab Semua, Dari panitia, peserta, hingga setiap warga membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk cinta pada daerah sendiri.

 

Anak-anak Membawa Perubahan, Lewat lomba daur ulang dan keteladanan orang dewasa, generasi muda belajar; merawat alam adalah kehormatan.


 Festival Budaya Manulai II mengajarkan,  melestarikan budaya sama artinya dengan merawat bumi. Dua hal itu tak bisa dipisahkan warisan leluhur dan lingkungan yang sehat sama-sama dititipkan kepada kita untuk dijaga, lalu diserahkan kembali kepada generasi mendatang dalam keadaan utuh, bersih, dan indah.

“Lakukan hal kecil,  pungut sampah, tanam pohon, jaga kebersihan, tetapi lakukan dengan cinta yang sangat besar. Itulah cara terbaik mencintai Kupang, mencintai NTT, dan mencintai bumi ini.”(*).


Komentar

Tampilkan

  • Budaya yang Hidup di Lingkungan yang Bersih dan Asri
  • 0

Terkini

Ads

float