Iklan

Politik

Festival Budaya Manulai II: Lestarikan Budaya, Perkuat Persatuan, Raih Prestasi

, Oktober 02, 2026 WIB Last Updated 2026-10-01T23:27:51Z

Berita-Cendana.Com- Kupang,- Suasana kekeluargaan dan kebersamaan menyelimuti Kantor Kelurahan Manulai II, Kecamatan Alak, Kota Kupang, saat digelarnya Festival Budaya Kelurahan Manulai II. Bertema “Lestarikan Budaya, Tingkatkan Wawasan, dan Raih Prestasi”, kegiatan berlangsung meriah selama tiga hari, 1 hingga 3 Oktober 2026, mulai pukul 16.00 WITA. Kamis, 1 Oktober 2026.

Acara dibuka secara resmi oleh Camat Alak, Amramsius Yolah, S.Sos., yang mewakili Wali Kota Kupang. Turut hadir Lurah Manulai II Wilhelmus Tuan, S.P., Sekretaris Camat Alak, Ketua LPM, para Ketua RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, kelompok seni budaya, pelaku UMKM, serta masyarakat luas.

Dalam laporan pertanggungjawabannya, Ketua Panitia Emeritus Pendeta Henderikus Abineno, menjelaskan makna mendalam dari tema kegiatan yang diusung. Pertama; Melestarikan Budaya, Budaya adalah jati diri dan identitas masyarakat. Melalui pertunjukan tarian etnik, tutur adat (natoni), dan berbagai perlombaan seni, warga diberi ruang untuk mengenal, menampilkan, dan meneruskan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi penerus.

Kedua;  Memperkuat Nasionalisme. Cinta budaya daerah adalah wujud cinta kepada bangsa dan negara. Keberagaman etnis yang hidup berdampingan di Kelurahan Manulai II bukan pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelestarian budaya menjadi sarana membangun gotong royong, toleransi, dan rasa memiliki.

Ketiga; Meraih Prestasi. Kreativitas tidak berhenti pada seremonial, melainkan didorong menjadi kemampuan yang berprestasi. Perlombaan menjadi panggung bagi generasi muda untuk tampil, membangun kepercayaan diri, serta belajar menghargai proses dan pencapaian orang lain.

“Budaya adalah akar yang menguatkan jati diri kita. Kebersamaan adalah kekuatan yang menyatukan, dan prestasi adalah buah dari kerja keras yang dilakukan bersama,” tegas Ketua Panitia.

Festival ini menghadirkan beragam lomba dan pertunjukan yang melibatkan seluruh lapisan warga. Pertunjukan kelompok etnik, masing-masing etnis menampilkan tarian dan budaya terbaiknya. Tutur adat atau natoni menghidupkan kembali warisan lisan yang mulai jarang digemari generasi muda. Lomba bersiul bagi ibu-ibu, mengingat peran ibu menenangkan keluarga lewat keindahan suara. Fashion Show RT/RW, pasangan suami-istri tampil berpasangan. Lomba busana daur ulang, menumbuhkan kesadaran lingkungan, wujud cinta kebersihan dan alam.  Lomba ikat selimut bagi bapak-bapak, melatih kemandirian dan keterampilan laki-laki dalam rumah tangga.

Dua tong sampah telah disiapkan di sisi kiri dan kanan pintu masuk Kantor Lurah, serta roda tiga pengangkut sampah yang siap sedia wujud nyata komitmen kebersihan lingkungan di setiap sudut kegiatan.

Mewakili Wali Kota Kupang, Camat Alak menyampaikan apresiasi yang tinggi. Ia menegaskan bahwa festival budaya bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang menghidupkan identitas, sejarah, dan nilai luhur masyarakat.

“Kota Kupang adalah rumah bagi beragam etnis,  Timor, Sabu, Flores, Rote, dan lainnya. Perbedaan bukan alasan menjauh, melainkan kekuatan untuk saling membangun. Modernisasi boleh berjalan, tapi jangan tinggalkan akar budaya. Masyarakat yang maju bukan melupakan masa lalu, melainkan membawa nilai baik masa lalu untuk menjawab kebutuhan masa kini,” ujar Camat Amramsius Yolah.

Ia juga mengajak seluruh warga mendukung program Biopori yang digalakkan di 12 kelurahan se-Kecamatan Alak, sebagai wujud cinta lingkungan hidup.

“Pemerintah saja tidak cukup. Kita harus bergandengan tangan. Ketika kita bersatu, tanah yang kering pun bisa menjadi hijau,” tambahnya.

Turut hadir dan memberi semangat Emeritus Pendeta Henderikus Abineno, Rektor Universitas Tribuana Tunggadewi, Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Kupang, serta Kabid Ekonomi Kreatif. Kehadiran mereka menjadi kehormatan sekaligus pengingat bahwa budaya adalah tanggung jawab bersama.

Kegiatan didukung dari Anggaran Pemerintah Kelurahan Manulai II sebesar Rp20 juta, serta kebutuhan tambahan sebesar Rp3.850.000 yang terpenuhi melalui partisipasi sukarela para Ketua RT/RW, donatur, dan warga. Ini membuktikan kuatnya ikatan kekeluargaan dan semangat gotong royong masyarakat Manulai II.

Festival Budaya Manulai II bukan sekadar kenang-kenangan, melainkan langkah kecil bermakna besar, merawat budaya, mempererat persaudaraan, menyiapkan generasi yang mencintai daerah, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia. (*).

 

 


Komentar

Tampilkan

  • Festival Budaya Manulai II: Lestarikan Budaya, Perkuat Persatuan, Raih Prestasi
  • 0

Terkini

Ads

float