Luas Panen Padi Di Nusa Tenggara Timur Mengalami Penurunan 19,37 Persen




Berita-Cendana.com- Kupang,-Kupang,- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT melakukan Pertemuan dan Pembahasan luas panen
padi dan produksi padi.

Pada tahun 2018 dikonversikan menjadi
beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras di
Nusa Tenggara Timur pada 2019 sebesar 473 ribu ton  penurunan sebanyak 51,4 ribu ton atau 9,80% dibandingkan tahun 2018. Kata Kabit Statistik Produksi, Sofan,Ssi, M.si, saat jumpa pers di aula BPS Senin 02 /03/2020.

Ungkap Sofan, "data produksi padi banyak pihak sejak 1997. Studi yang 
dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Japan International Cooperation Agency
(JICA) pada tahun 1996/1997 telah mengisyaratkan overestimasi luas panen sekitar 17,07 persen.

Persoalan yang sama juga terjadi pada data luas lahan baku sawah yang dilaporkan cenderung meningkat meskipun fakta di lapangan menunjukkan terjadinya pengalihan fungsi lahan sawah untuk industri, perumahan atau infrastruktur yang tidak bisa diimbangi oleh pencetakan sawah baru". 



Walaupun sudah diduga sejak lama, upaya untuk memperbaiki metodologi perhitungan produksi padi baru dilakukan pada tahun 2015. BPS bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN), Badan Informasi dan Geospasial (BIG), serta Lembaga Penerbangan dan
Antariksa Nasional (LAPAN) berupaya memperbaiki metodologi perhitungan luas panen dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).KSA memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku sawah yang berasal dari Kementerian ATR/BPN untuk mengestimasi luas panen padi.


Penyempurnaan dalam berbagai tahapan perhitungan produksi beras telah dilakukan
secara komprehensif mulai dari perhitungan luas lahan baku sawah hingga perbaikan perhitungan konversi gabah kering menjadi beras. Secara garis besar, tahapan dalam perhitungan produksi
beras adalah:Menetapkan luas lahan baku sawah nasional dengan Keputusan Menteri/Kepala BPN
No. 686/SK-PG.03.03/XII/2019 tanggal 17 Desember 2019.

Luas lahan baku sawah
nasional tahun 2019 adalah sebesar 7.463.948 hektar. Dengan menggunakan informasi, luas lahan baku sawah tersebut, perhitungan ulang dilakukan untuk luas panen dan produksi padi 2018. Sebagai perbandingan, luas lahan baku sawah nasional. menurut Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No.399/Kep-23.3/X/2018 tanggal 8 Oktober 2018 adalah sebesar 7.105.145 hektar. Menetapkan luas panen dengan KSA yang dikembangkan bersama BPPT dan telah mendapat pengakuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menetapkan produktivitas per hektar.

BPS juga melakukan penyempurnaan metodologi
dalam menghitung produktivitas per hektar dengan mengganti metode ubinan berbasis rumah tangga menjadi metode ubinan berbasis sampel KSA. Menetapkan angka konversi dari gabah kering panen (GKP) ke gabah kering giling (GKG) dan angka konversi dari GKG ke beras. 

Penyempurnaan dilakukan untuk mendapatkan,
angka konversi yang lebih akurat dengan melakukan survei di dua periode musim yang berbeda dengan basis provinsi pada tahun 2018 sehingga didapatkan angka konversi untuk masing-masing provinsi yang memperhitungkan pengaruh musim.


Sebelumnya, survei hanya dilakukan untuk satu musim tanam dan secara nasional. Keempat tahapan tersebut telah selesai disempurnakan.

Perkembangan Luas Panen Padi di Nusa Tenggara Timur, 2018-2019. Produksi Padi di Nusa Tenggara Timur
Total produksi padi di Indonesia pada 2019 sekitar 811,7 ribu ton GKG, atau mengalami penurunan
sebanyak 88,2 ribu ton (9,80
persen) dibandingkan tahun
2018. Jika dibandingkan antar
bulan, penurunan produksi
terbesar pada 2019 dibandingkan tahun 2018 terjadi pada bulan Januari, yaitu sekitar w62,96 ribu ton
Produksi tertinggi pada 2019
terjadi pada bulan Mei
sebesar 180,23 ribu ton dan
produk.

Agus Tamelab.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Subscribe Us

Responsive Ad Slot