Masih 0 Persen, Progres Fisik Proyek Jalan Provinsi Pota-Wae Kulambu Mandeg

 Berita-Cendana.com-Borong, – Progres fisik proyek peningkatan Jalan Provinsi. ruas Pota-Wae Kulambu Kabupaten Manggarai Timur (Batas Manggarai Timur-Ngada) dengan panjang ± 4 km (1 km hotmix dan 3 km GO/Perkerasan, red) yang dilaksanakan oleh PT. Bina Citra Teknik (BTC) masih 0 % (nol persen) alias mandeg di MC 0.  Padahal proyek tersebut sudah dilaksanakan/dikontrak sejak Oktober 2020 (dari 6 bulan masa kontrak, red).


Berdasarkan pantauan tim investigasi media ini, badan Jalan Provinsi, ruas Pota-Waekelambu masih berupa tanah.  Di bagian kiri dan kanan jalan tersebut, membentang areal persawahan milik warga.

 

Seperti disaksikan tim media ini, hampir disepanjang jalan sekitar 4 km tersebut berlubang, bahkan menyerupai kubangan. Para pengendara; baik kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintasi ruas jalan tersebut harus berhati-hati badan jalan yang licin.  Di beberapa titik ada aliran air di badan jalan yang berasal dari areal persawahan.


Di lokasi proyek, mulai dari kampung Buntal (4 pohon tempat wisata WNA Prancis, red) hingga kampung Kembo, tidak ada tanda-tanda aktivitas pekerjaan proyek. Base Camp tampak sepi dan lengang, tak ada aktivitas apapun.  Pintu Base Camp tampak tertutup rapat. 


Di sekitar lokasi proyek, tampak ada 2 (dua) unit excavator (merk Hyundai).  Satu (satu) unit excavator terparkir di base camp (di samping jembatan Buntal, red).  Sedangkan excavator  lainnya tampak berada di depan SDI Kembo, Desa Golo Lijun yang digunakan untuk membelah bukit dan mengambil batu untuk digunakan sebagai pasangan saluran. 


Di lokasi ini, tampak juga ada beberapa tumpukan batu putih sejenis batu kapur yang siap di angkut ke titik lokasi pengerjaan proyek.  Ada pula 4 (empat) tumpukan (sekitar 2 ret) yang berada di lokasi proyek, tepat di pinggir pematang sawah Kampung Buntal. Juga  ada tumpukan pasir di samping jembatan Buntal.


Informasi yang dihimpun tim media ini, PT. BTC sebagai kontraktor pelaksana proyek tersebut, mengambil pasir tersebut dari sungai Buntal  tanpa mengantongi izin resmi (ilegal). Perusahaan yang beralamat di jalan Kelimutu Kabupaten Ende itu juga diduga tidak memiliki izin quary dan tidak memiliki stone crusher serta tidak memiliki Aspal Mixing Plan (AMP).  


Direktur PT. Bina Citra Teknik¸ Kosmas Heng yang dikonfirmasi Tim Investigasi melalui telepon selulernya dan pesan WhatsApp/WA pada Senin (18/01/2021) menanggapi/menjawab bahwa realisasi fisik proyek tersebut sebenarnya sudah mencapai  7,44 % (tujuh koma empat puluh empat persen).


“Progress di lapangan 7,44 persen pak karena ada beberapa item yang sudah masuk progres tersebut seperti mobilisasi, K3, pembersihan dan pengupasan lahan,” jelasnya.


Sesuai rencana, jelas Cosmas Heng¸ pekerjaan hotmix akan dikerjakan di bulan April 2021 di masa akhir kontrak proyek. Sedangkan urukan pilihan atau urpil akan diturunkan secepatnya. “Hotmix rencana diakhir kontrak april, urpil minggu ini sudah mulai stok materialnya¸” tandasnya.


Menurut Kosmas Heng, persoalan keterlambatan pengerjaan proyek dan ketidakmajuan progres proyek tersebut karena terkendala cuaca hujan di lokasi proyek. “Kendala curah hujan yg tinggi, wktu (waktu) kontrak awal msh (masih) tunggu  tim dr (dari) smi (SMI/Sarana Multi Infrastruktur) turun MC 0... waktu sisa kami efektifkan untuk kejar fisik yg tertinggal,” jelasnya. 


Terkait keterbatasan/ketiadaan sarana alat kerja pendukung seperti tom crusher dan Aspal Mixing Plan (AMP), Kosmas Heng mengungkapkan bahwa stone crushernya sudah ada yakni di Kabupaten Nagekeo. Sementara AMP masih dalam proses pengiriman dari Surabaya ke lokasi proyek. “Tersedia Cruser (stone crusher/alat pemecah batu) saya sudah ada di Nagekeo dari 2009 Pak.  AMP dalam proses  pengiriman dan Februari 2021 pemasangannya,:)" katanya.


Selanjutnya terkait dugaan pasir dari sungai Buntal tanpa izin resmi/izin quary¸ Direktur PT. BTC menjawab bahwa pihaknya telah mendapatkan izin dari Kepala Desa setempat (Kepala Desa Golo Lijun) dengan janji retribusi ke pihak Desa dan dinas terkait (Dinas Pertambangan, red). “Kami sudah ijin di ibu desa... nanti ada retribusi desa, selain retribusi  galian gol.c ke dinas terkait..," pungkasnya.


Sementara itu, Kepala Dinas PUPR NTT, Ir. Maksi Nenabu., MT yang dikonfirmasi Tim Media ini di ruang kerjanya pada Senin (18/01/2021), mengungkapkan bahwa pihaknya telah memerintahkan perusahaan kontraktor  tersebut (PT. Bina Citra Teknik, red) untuk segera mengerjakan proyek tersebut dan mengejar ketertinggalan progress yang ada, mengingat target waktu penyelesaian proyek ruas jalan Pota-Waekelambu hampir lima puluh persen.


“Kemarin (Sabtu, red) saya sudah telefon dan perintahkan kontraktor untuk segera mengerjakan proyek itu. Kita juga akan lakukan presure (tekanan) biar kontraktornya tidak kerja main-main, harus sungguh-sungguh," jelasnya.


Maksi Nenabu juga meminta semua pihak untuk mendukung pengerjaan proyek ruas Pota-Waekelambu yang sementara dikerjakan, karena bermanfaat untuk masyarakat pengguna jalan tersebut. “Kita semua dukung supaya proyek itu dikerjakan dan cepat selesai masyarakat menunggu kita kerjakan,” imbuhnya. (Tim)

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama

Subscribe Us

Responsive Ad Slot