Berita-Cendana.Com- Kupang,- Pembangunan Nusa Tenggara Timur tidak dapat lagi hanya bertumpu pada pendekatan administratif dan programatik konvensional. NTT membutuhkan lompatan paradigma pembangunan berbasis ecological engineering, inovasi sumber daya air, dan integrasi ekonomi masyarakat lokal.
Sebagai wilayah dengan karakter geografis semi-arid, NTT menghadapi tantangan klasik berupa curah hujan pendek, tingkat evaporasi tinggi, serta keterbatasan distribusi air. Karena itu, persoalan utama NTT sesungguhnya bukan hanya kekurangan air, melainkan ketidakmampuan menyimpan dan mendistribusikan air secara efisien hingga menjangkau lahan produktif masyarakat.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan pembangunan yang lebih kreatif, adaptif, dan berbasis rekayasa ekologis. menegaskan bahwa pembangunan NTT harus dilakukan melalui inovasi yang sesuai dengan karakter geografis daerah.
Menurutnya, salah satu solusi strategis yang dapat diterapkan adalah pembangunan sistem irigasi geomembran dari hulu hingga hilir sungai dengan membangun jebakan-jebakan air di sepanjang aliran sungai agar air hujan tidak seluruhnya terbuang ke laut.
“Gagasan tentang irigasi geomembran sesungguhnya bukan sekadar solusi teknis pengairan, tetapi merupakan konsep besar tentang bagaimana wilayah kering seperti NTT membangun water resilience system secara berkelanjutan,” jelasnya.
SPK menjelaskan, pendekatan “menjebak air sebelum kembali ke laut” merupakan bentuk rekayasa hidrologi yang sangat relevan bagi wilayah kering seperti NTT. Dalam jangka dua hingga lima tahun, sistem tersebut diyakini mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus memperbesar debit sumur-sumur masyarakat di sekitar kawasan retensi air.
Ia menambahkan, sistem irigasi geomembran juga mampu mengoptimalkan potensi lahan pertanian yang selama ini terkendala keterbatasan air. Dengan distribusi air yang lebih efisien dan minim rembesan, masyarakat yang sebelumnya hanya mampu menanam satu kali dalam setahun dapat meningkatkan produktivitas hingga dua sampai tiga kali musim tanam.
Secara teknis, konsep geomembran menjadi penting karena mampu menekan kehilangan air akibat rembesan, meningkatkan efisiensi distribusi, memperkuat cadangan air tanah, serta mendorong transformasi pola pertanian dari single cropping menuju multiple cropping.
Apabila dijalankan secara sistematis dari hulu hingga hilir, maka dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian, tetapi juga terhadap pengurangan kemiskinan desa, stabilisasi pangan lokal, hingga penguatan ekonomi masyarakat berbasis kawasan.
Selain sistem irigasi geomembran, SPK juga menawarkan konsep “infus air” pada jaringan PDAM sebagai bentuk inovasi tata kelola air berbasis kolaborasi masyarakat.
Menurutnya, setiap sumur masyarakat yang memiliki debit air layak dapat diintegrasikan ke jaringan PDAM melalui sistem distribusi terukur dengan pemasangan meteran air. Dalam skema tersebut, masyarakat pemilik sumur mendapatkan kompensasi dari PDAM berdasarkan volume air yang disalurkan ke jaringan distribusi.
“Konsep ini sesungguhnya mencerminkan pendekatan collaborative water governance, di mana masyarakat tidak lagi hanya menjadi konsumen air, tetapi ikut menjadi bagian dari ekosistem penyediaan air. Dalam perspektif ekonomi publik, model seperti ini menciptakan shared value antara negara, BUMD, dan masyarakat pemilik sumber air,” ujarnya.
Ke depan, lanjut SPK, NTT membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak berhenti pada pola bantuan sosial atau proyek jangka pendek, tetapi bergerak menuju pembangunan berbasis produktivitas ekologis, teknologi tepat guna, dan keberanian melakukan eksperimen kebijakan sesuai karakter geografis daerah.
“Karena sesungguhnya masa depan NTT tidak ditentukan oleh seberapa besar bantuan yang datang, tetapi oleh seberapa cerdas daerah ini mengelola air, pangan, energi, dan manusianya sendiri,” tegasnya.
Dalam konteks percepatan jangkauan air di wilayah kering, SPK juga mengusulkan perubahan paradigma pembangunan infrastruktur air yang selama ini terlalu bertumpu pada bendungan berskala besar.
Secara konseptual, menurutnya perlu dipertimbangkan efektivitas antara membangun satu bendungan raksasa bernilai lebih dari Rp2 triliun dibanding membangun ribuan embung geomembran yang tersebar dengan nilai sekitar Rp1 miliar per unit.
Pendekatan embung tersebar dinilai lebih strategis karena persoalan utama daerah kering bukan semata-mata volume air, tetapi jarak antara sumber air dengan lahan produktif masyarakat. Semakin dekat air dengan titik produksi pertanian, maka semakin rendah biaya distribusi, semakin tinggi efisiensi pemanfaatan air, dan semakin cepat dampak ekonominya dirasakan masyarakat.
SPK menjelaskan, embung-embung geomembran tersebut dapat dihubungkan melalui jaringan irigasi berbentuk “jaring laba-laba”, sehingga tercipta konektivitas hidrologis antar kawasan. Dengan model ini, sungai-sungai besar tidak lagi hanya menjadi jalur aliran menuju laut, tetapi berubah menjadi tulang punggung distribusi air regional yang menjangkau wilayah kering secara lebih luas.
Dalam perspektif water resilience system, jaringan embung geomembran yang tersebar akan menciptakan sistem distribusi air yang lebih adaptif, elastis, dan tahan terhadap perubahan iklim dibandingkan pola sentralistik bendungan tunggal. Ketika hujan lebat terjadi, air tidak lagi langsung terbuang ke laut, tetapi ditangkap secara simultan pada ribuan titik retensi air di berbagai kawasan.
Model tersebut dinilai memiliki sejumlah keunggulan strategis, antara lain:
1. Distribusi air lebih merata dan dekat dengan lahan pertanian rakyat.
2. Risiko kerusakan sistem lebih kecil karena tidak bertumpu pada satu infrastruktur tunggal.
3. Efektivitas penyerapan air tanah meningkat karena titik retensi tersebar.
4. Dampak ekonomi lokal lebih cepat tumbuh karena proyek menjangkau desa-desa.
5. Pembangunan dapat dilakukan bertahap tanpa menunggu proyek raksasa selesai bertahun-tahun.
Menurut SPK, NTT seharusnya tidak lagi dipandang semata-mata sebagai daerah dengan keterbatasan, tetapi harus ditempatkan sebagai laboratorium strategis pembangunan nasional.
“Jika konsep-konsep seperti rekayasa air berbasis geomembran, integrasi sumber air masyarakat dengan sistem PDAM, pertanian produktif berbasis konservasi, dan penguatan ekonomi desa berhasil diterapkan di NTT, maka keberhasilan itu dapat menjadi model pembangunan yang direplikasi ke berbagai wilayah Indonesia dengan tantangan geografis serupa,” jelasnya.
Ia menilai keberhasilan NTT nantinya bukan hanya menjadi keberhasilan daerah, tetapi juga menjadi prestasi pemerintah pusat dalam membuktikan bahwa pembangunan Indonesia harus mampu menjawab realitas geografis yang berbeda-beda melalui pendekatan yang kreatif, adaptif, dan inovatif.
“Jika NTT berhasil, maka Indonesia memiliki model pembangunan wilayah kering yang dapat direplikasi secara nasional. Dan ketika itu terjadi, NTT bukan lagi sekadar penerima pembangunan, tetapi menjadi titik lahir paradigma baru pembangunan Indonesia.
Jangan pernah merasa NTT kecil. Karena bisa jadi, dari NTT-lah Indonesia menemukan kunci sukses pembangunan masa depannya,” tutup Simon Petrus Kamlasi. (*)
.jpg)
Posting Komentar