Berita-Cendana.Com – Soe, – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menegaskan akan mengawasi langsung perbaikan ruas jalan Oenitas di Desa Kokoi, Kecamatan Amanatun Selatan, hingga selesai, kemudian melanjutkan pekerjaan di ruas jalan Babia, Desa Putun, Kecamatan Nunkolo.
Demikian disampaikan Kepala BPBD TTS, Drh. Daniar A.S. Ati, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan kerusakan dan longsor terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama, sehingga memperlemah struktur tanah dan menimbun badan jalan di sejumlah titik.
“Sebagai lembaga yang menangani penanggulangan bencana, kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan menurunkan alat berat ke lokasi. Alat tersebut tiba sore kemarin dan mulai beroperasi pagi ini untuk membersihkan tumpukan tanah dan bebatuan,” jelasnya.
Untuk memastikan pekerjaan berjalan lancar, BPBD menugaskan tiga orang staf yang akan memantau kemajuan pekerjaan secara berkala setiap hari. Mereka juga akan berkoordinasi dengan Kepala Desa Kokoi guna mengatur aliran air agar kembali normal menuju saluran atau gorong-gorong yang tersedia. Langkah ini diharapkan mencegah kerusakan kembali jika hujan masih turun dalam beberapa hari ke depan.
Setelah selesai di Oenitas, alat berat akan segera dipindahkan ke Babia. Pekerjaan di lokasi itu diperkirakan lebih singkat, cukup dengan membersihkan material longsor agar jalan dapat segera dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, sehingga aktivitas ekonomi dan mobilitas warga kembali pulih.
Catatan Redaksi: Masalah Berulang Selama 26 Tahun
Masyarakat berharap, selain penanganan darurat, pemerintah daerah juga segera menyusun program mitigasi jangka panjang agar jalan penghubung penting ini benar-benar aman dan tidak lagi menjadi titik rawan bencana setiap musim hujan.
Namun demikian, kondisi ini mengingatkan kembali pada sejarah panjang kerusakan di ruas jalan Oenitas. Berdasarkan catatan, titik ini sudah mengalami longsor sejak tahun 2000, hingga 2026 sudah berlangsung selama 26 tahun. Setiap kali musim hujan dengan curah tinggi tiba, longsor akan terjadi kembali dan mengganggu akses.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah hanya perbaikan darurat dengan alat berat yang menjadi solusi satu-satunya? Belum terlihat adanya upaya pencegahan jangka panjang, misalnya penanaman tanaman penahan tanah seperti bambu atau bitung, yang seharusnya menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup. Hingga saat ini, belum terlihat tindakan nyata dari instansi terkait untuk mengatasi akar permasalahan agar longsor tidak terus berulang setiap tahun. (BCC/Tim Redaksi)

Posting Komentar