Berita-Cendana.Com- Kupang,- Kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81 berubah menjadi momen istimewa di Pantai Warna, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima. Di tengah riuhnya Festival Budaya Kelurahan Oesapa, ada satu hal yang justru paling menonjol dan memikat hati siapapun yang hadir: Kebersihan yang terjaga dengan sempurna.
Sejak pukul 17.00 WITA, kawasan pantai dan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) terlihat bersih, tertata rapi, dan bebas dari tumpukan sampah. Sebuah pemandangan yang membuktikan bahwa merayakan budaya dan menjaga lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Kondisi bersih tersebut bukan kebetulan, itu adalah hasil kesadaran warga yang tumbuh dari hati. Yohanes Bere, warga Oesapa yang hadir bersama keluarganya, menyampaikan:
"Pantai Warna ini bukan milik perorangan, ini milik kita semua warga Oesapa, milik seluruh masyarakat Kupang. Jika kita merayakan budaya yang luhur, tapi membiarkan tempat kita kotor, berarti kita belum benar-benar mencintai budaya kita sendiri. Kebersihan ini bukan tugas petugas saja tetapi ini tugas setiap orang yang datang, setiap orang yang merasa menjadi bagian dari kota ini,”.
Maria Da Cunha, warga lain yang turut membantu mengumpulkan sampah plastik di sekitar lokasi, menambahkan: "Kami bangga. Ketika tamu dari luar datang ke sini dan melihat pantai bersih sambil menonton tarian Bonet, mereka melihat dua hal sekaligus: budaya kita yang indah, dan kesadaran kita yang tinggi. Itu harga diri kita sebagai warga Oesapa,”.
Kebersihan yang terpantau di Pantai Warna ini merupakan wujud nyata dari visi dan misi Pemerintah Kota Kupang di bawah kepemimpinan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo.
"Kota Kupang Menjadi Rumah Bersama yang Modern, Bersih, Aman, Berbudaya, Tangguh, dan Sejahtera".
Membangun Kota Berbasis Lingkungan dan Budaya, menempatkan pelestarian lingkungan hidup dan pengelolaan sampah sebagai prioritas strategis, yang dijalankan beriringan dengan pengembangan dan pelestarian budaya daerah.
"Kebersihan bukan sekadar soal estetika, ini soal martabat, soal masa depan. Kita tidak bisa mengaku berbudaya jika tidak mampu menjaga tempat kita berpijak. Visi kami sederhana: setiap warga Kupang, tanpa terkecuali, merasa memiliki kota ini. Ketika rasa memiliki itu tumbuh, kebersihan dan kelestarian lingkungan akan menjadi budaya yang hidup, bukan sekadar himbauan di dinding." beber dr. Christian Widodo.
Pemerintah Kota Kupang terus memperkuat berbagai program pengelolaan lingkungan, antara lain:
✅ Penyediaan fasilitas pengelolaan sampah di setiap titik keramaian
✅ Program Bank Sampah berbasis kelurahan
✅ Lomba Kebersihan Antar Kelurahan berhadiah ratusan juta rupiah
✅ Kampanye "Kupang Bersih, Tanggung Jawab Bersama"
✅ Integrasi pelestarian budaya dengan pariwisata berkelanjutan.(*).


Posting Komentar