Berita-Cendana.Com- KUPANG,- Kelurahan Air Nona, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, berwarna, penuh sukacita, dan bersih. Festival Budaya Sabu digelar secara resmi di wilayah RT 14/RW 4, menjadi ruang pelestarian adat sekaligus bukti nyata kesadaran warga menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup. Acara dibuka oleh Asisten I Pemkot Kupang Hengky Malelak, mewakili Walikota Kupang dr. Christian Widodo yang sedang bertugas di Flores. Rabu, 26 Agustus 2026.
Sebelum acara dimulai, pantauan di lokasi menunjukkan lingkungan sekitar sudah tertata rapi, bebas sampah berserakan, dan saluran air bersih. Bukan kebetulan, panitia dan warga sudah bekerja sama membersihkan lokasi sejak beberapa hari sebelumnya.
"Kebersihan itu bagian dari budaya kita. Kalau rumah dan lingkungan kita kotor, bagaimana kita bisa menyambut tamu dengan baik? Menjaga kebersihan sama dengan menjaga nama baik leluhur," ujar Ibu Maria Bule, warga Kelurahan Air Nona yang ikut membantu membersihkan lokasi festival.
Pernyataan itu diamini Bapak Dedi Hale, warga setempat: "Kota Kupang ini rumah kita bersama. Kalau Air Nona bersih, itu bukan cuma bagus untuk kita, tapi juga untuk semua orang yang datang. Budaya Sabu itu mengajarkan kita untuk menghormati tanah tempat kita hidup dan menjaganya tetap bersih adalah bentuk penghormatan yang paling nyata,” ucapnya.
Dalam sambutan Walikota yang disampaikan Hengky Malelak, dr. Christian Widodo juga menekankan hubungan erat antara budaya dan lingkungan:
"Kebersihan bukan sekadar aturan pemerintah, melainkan cerminan hati dan budaya masyarakat. Kelurahan Air Nona yang kaya budaya harus juga menjadi contoh kelurahan yang bersih, asri, dan nyaman ditinggali. Budaya yang kuat berjalan beriringan dengan lingkungan yang terjaga,”.
Walikota: Keberagaman & Kebersihan Adalah Kekuatan Bersama
Meskipun berhalangan hadir karena sedang menyerahkan bantuan kemanusiaan di Flores, Walikota menyampaikan pesan penting:
"Kota Kupang adalah kota yang bertumbuh dengan keberagaman. Di kota ini, berbagai suku, agama, bahasa, dan latar belakang hidup bersama. Keberagaman ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan besar yang harus kita rawat bersama termasuk merawat lingkungan dan kebersihan kota kita,”.
Beliau juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya bangga pada budayanya, tetapi juga menjadi pelopor kebersihan: "Jangan merasa budaya itu kuno. Di tengah arus globalisasi, budaya adalah akar dan lingkungan yang bersih adalah tanah tempat akar itu tumbuh. Jaga keduanya, maka masa depan kita akan kuat,”.
Panitia: Kebersihan Sebelum, Saat, dan Sesudah Festival
Ketua Panitia Andi Abineno menegaskan bahwa festival ini tidak hanya soal hiburan dan budaya, tetapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan:
"Kami siapkan tempat sampah di setiap sudut lokasi. Panitia kebersihan bertugas selama acara berlangsung, dan setelah acara selesai, kami pastikan lokasi kembali bersih. Ini tanggung jawab kami kepada masyarakat dan lingkungan kami,”.
Selama tiga hari festival (26–28 Agustus 2026), selain lomba tarian adat, lagu daerah, pasar rakyat, dan pelayanan kesehatan gratis, panitia juga menyisipkan kampanye "Air Nona Bersih" mengajak pengunjung untuk memilah sampah, tidak membuang plastik sembarangan, dan menjaga saluran air tetap bersih.
Nilai Luhur Sabu: Menjaga Bumi, Menjaga Kehidupan
Dalam pemaparan adat dan budaya Sabu, Tokoh Muda Sabu Air Nona mengaitkan tradisi dengan kelestarian lingkungan:
"Orang Sabu hidup dari tanah dan laut. Lontar yang menjadi kebanggaan kita tumbuh di tanah yang baik. Tanah yang kotor dan rusak tidak akan memberi hasil. Menjaga kebersihan lingkungan itu sama dengan menjaga kehidupan kita sendiri. Itu nilai luhur leluhur yang tidak boleh hilang".
Penerimaan tanpa syarat, tarian adat yang melingkar, dan sabung ayam adat sebagai simbol perdamaian, semua itu mengajarkan kita untuk hidup rukun satu sama lain dan rukun dengan alam.
"Kita bangga menjadi orang Sabu, tetapi kebanggaan itu tidak boleh membuat kita memisahkan diri. Justru di Kota Kupang yang beragam, budaya kita dan lingkungan yang bersih menjadi kekuatan bersama," tambahnya.
Penutup: Rawat Budaya, Jaga Kebersihan, Bangun Kupang yang Lebih Baik
Festival Budaya Sabu Air Nona 2026 bukan hanya perayaan warisan leluhur, tetapi juga komitmen nyata warga untuk melestarikan budaya sekaligus menjaga lingkungan hidup. Kebersihan yang terjaga di lokasi festival menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya dan kesadaran lingkungan dapat berjalan beriringan.
"Budaya yang kuat dan lingkungan yang bersih, dua hal yang tak terpisahkan. Mari rawat keduanya, demi Kota Kupang yang berkarakter, sehat, dan bermartabat untuk generasi mendatang”.(*).

Posting Komentar