Berita-Cendana.Com- Kupang,- Perayaan Hari Ulang Tahun Tunggal Hati Seminari Tunggal Hati Maria (HUT THS-THM) yang ke 40 dan 39 dirayakan bukan sekedar tetapi di refleksi sebagai sebuah perjalanan panjang organisasi beladiri yang mengubah hidup ribuan anak muda Katolik, perjalanan yang penuh disiplin, spiritualitas, kepedulian, dan pengorbanan. Perayaan hari ini tentu bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah tonggak spiritual, tonggak moral, dan tonggak kebangsaan yang mengingatkan kita bahwa apa yang dimulai dengan sederhana, dapat bertumbuh menjadi kekuatan yang mengubah wajah gereja dan masyarakat.
Demikian disampaikan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena yang diwakili oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT Yosef Rasi, S. Sos., M.Si pada Sabtu, 29 November 2025.
HUT THS-THM jatuh pada 10 November 2025, namun ada sejumlah pertimbangan sehingga baru dilakukan pada 28-29 November 2025 di Paroki Santa Familia Sikumana Kupang yang dihadiri oleh 1.200 Anggota THS-THM Distrik Keuskupan Agung Kupang.
THS-THM dimulai dari lembah Seminari Menengah Mertoyudan sejak tahun 1983 melalui bimbingan seorang Frater Martinus Hadiwijoyo, Organisasi Bela Diri THS-THM sebagai media kerasulan mulai berkecambah. Setelah ditahbiskan sebagai Imam, semangat Romo Hadi untuk mengembangkan organisasi ini terus berkembang. Bersama dengan belasan orang laki-laki dan perempuan dari berbagai latar belakang baik imam maupun awam Katolik, rangkai Yosef Rasi.
Romo Hadi dan kawan-kawan yang dikenal sebagai dewan pendiri secara resmi memaklumkan pendirian organisasi Bela Diri THS pada 10 November 1985. Setahun kemudian pada tanggal yang sama yakni 10 November 1986 diikuti dengan Pendirian Organisasi Bela Diri THM. Dengan motto "Pro Patria et Ecclesia" (Untuk Bangsa dan Gereja) dan cara melaksanakan perjuangan kerasulannya adalah "Fortiter in Re Suaviter in Modo" (Kokoh Dalam Prinsip, Lembut Dalam Cara), THS-THM tumbuh dan berkembang bukan sekadar bela diri. Ia adalah bela diri yang berjiwa rohani. Setiap jurus, setiap latihan, setiap sikap dasar menggambarkan keselarasan antara tubuh, jiwa, dan iman, ucapnya.
THS-THM adalah wadah yang membentuk anak muda agar menyadari bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada otot, tetapi pada karakter yang jujur, pikiran yang jernih, dan hati yang taat pada Tuhan. Organisasi ini telah menjadi ‘sekolah kehidupan’ yang mendidik anak muda agar mampu mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan orang lain, menghormati sesama sebagai saudara, mengutamakan doa dalam setiap tindakan, mampu bersikap tegas namun rendah hati, menghadapi hidup dengan disiplin, bukan keluh kesah, melihat tantangan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ladang pelayanan.
Dalam menghadapi berbagai tantangan yang dialami daerah ini dan untuk mewujudkan visi NTT Yang Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera dan Berkelanjutan, kita membutuhkan generasi muda yang punya iman yang kokoh dan bermental baja, disiplin, berkarakter dan berintegritas, kreatif dan inovatif, sehat fisik,siap bekerja keras, mampu bekerja dalam tim, dan peduli pada masyarakat. Semua karakter itu dibentuk di dalam proses panjang melalui berbagai latihan yang dijalani dalam wadah THS-THM. Karena itu, gerakan bela diri ini bukan hanya organisasi rohani dan komunitas bela diri, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam mencetak generasi emas NTT.
Salah satu program unggulan Pemerintah NTT yang terus kami dorong untuk kita kerjakan secara serius adalah Program One Village One Product (OVOP) yang dapat bertransformasi menjadi One Community One Product (OCOP) atau Satu Komunitas, Satu Produk. Program ini terutama bertujuan mendorong semangat kreativitas dan pemberdayaan masyarakat desa atau komunitas tertentu agar dapat menemukan identitas ekonomi dan kebanggaan lokalnya sendiri.
THS–THM memiliki peran sangat strategis dalam menyukseskan OVOP atau OMOP karena beberapa alasan di antaranya:
Pertama, THS–THM adalah komunitas yang terorganisir kuat. Melalui sistem pelatihan dan pembinaan yang terstruktur, THS–THM mampu menjadi pendamping bagi komunitas desa untuk mengembangkan usaha lokal.
Kedua, Memiliki disiplin sebagai kekuatan utama. OVOP/OMOP memerlukan konsistensi kualitas, ketepatan waktu, ketekunan—semua ini adalah nilai dasar THS–THM.
Ketiga, Jaringan kader yang sangat luas dari paroki hingga berbagai komunitas terkecil. Jaringan ini bisa menjadi kekuatan pendampingan, edukasi dan promosi produk lokal.
Keempat, THS–THM memiliki pengalaman dalam pelayanan sosial dan edukasi Masyarakat. Melalui kegiatan live-in dan pendampingan umat, kader THS–THM sudah terbiasa berkomunikasi dengan masyarakat desa yang jadi modal penting untuk menggerakkan OVOP.
Kelima, Spirit THS–THM selaras dengan spirit OVOP/OCOP. OVOP/OCOP bukan sekadar gerakan ekonomi melainkan juga gerakan budaya, gerakan cinta tanah kelahiran, gerakan kebanggaan desa dan komunitas. Spirit THS–THM yakni doa, disiplin, solidaritas adalah energi moral yang sangat kuat untuk mendorong pengembangan Program OVOP atau OCOP.
Karena itu, Pemerintah NTT melihat THS-THM bukan sebagai organisasi di pinggiran, tetapi sebagai mitra moral, sosial, dan kultural dalam membangun desa-desa /komunitas di seluruh provinsi ini.
Di usia Pancawindu THS dan 39 Tahun THM ini, kita diajak untuk merefleksikan perjalanan panjang yang sudah dilewati organisasi Bela Diri berbasis ajaran iman Katolik. Kita melihat bahwa gerakan ini lahir dari rahmat Tuhan, tumbuh oleh komitmen para pendiri dan pembina, dan berbuah dalam kehidupan gereja serta masyarakat.
Bersyukur untuk sejarah itu. Namun kita dipanggil untuk menatap masa depan. Karena itu, Saya terus mengajak dan menghimbau seluruh anggota THS–THM agar teruslah memperdalam iman, menegakkan disiplin dan integritas, memelihara semangat pelayanan dan menjadi agen-agen perubahan di desa-desa dan berbagai komunitas baik di Paroki maupun Kelompok Umat Basis serta tetaplah setia pada nilai Tunggal Hati.
“NTT membutuhkan anak-anak muda yang beriman, kuat, cerdas, bermoral, dan berbela rasa. Dan saya percaya, THS–THM adalah jawaban atas kebutuhan itu. Atas nama Pemerintah Provinsi dan Masyarakat Nusa Tenggara Timur,”.
Pada momentum itu, Ketua Panitia pelaksana, mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kota Kupang yang hadir dalam perayaan ini, selain itu juga terima kasih kepada Uskup Keuskupan Agung Kupang yang telah memimpin Misa Syukur HUT Panca windu THS dan THM serta seluruh pastor moderator, pintanya.
Selain itu, Panitia juga mengucapkan terima kasih berlimpah kepada para pendukung baik itu secara langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan ini, para Donatur dan sponsor dari berbagai pihak yang telah membantu dengan caranya sehingga kegiatan ini sukses. Biarlah Tuhan yang membalas kebaikan bapak Ibu saudara-saudari.(*).

Posting Komentar