Berita-Cendana.Com- Kupang,- Se’i adalah makanan khas Kupang yang paling terkenal, yaitu daging asap yang dimasak dengan cara diasapi dengan bara api hingga matang. Hidangan tersebut bisa terbuat dari berbagai jenis daging, seperti babi, sapi, ayam, bahkan ikan, yang dibakar secara tradisional. Se'i biasanya disajikan dengan tumis daun pepaya dan sambal lu'at yang pedas untuk menghasilkan rasa yang lezat dan gurih.
“Kita memiliki banyak hal yang baik di Kota Kupang ini. Kita punya matahari terbenam yang sangat indah di Teluk Kupang. Kita juga memiliki kuliner yang lezat seperti jagung bose, kuah asam, dan Se’i. Sei adalah salah satu makanan yang paling unik dan terbaik dari Kupang. Seperti daging asap, tetapi diproses dengan pembakaran menggunakan daun kesambi yang memberikan aroma khas luar biasa, ucap Walikota Kupang.
Walikota Kupang dr. Christian Widodo menyampaikan hal itu pada acara Welcome Dinner for Residency Participants of the Indonesian-Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 , di Aula Rumah Jabatan Walikota Kupang pada Senin, 3 November 2025.
Momentum itu, Walikota Kupang kembali menegaskan bahwa kegiatan residensi internasional memiliki dampak strategis bagi pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya Kota Kupang. Ini merupakan event yang sangat baik, karena dapat meningkatkan ekonomi di Nusa Tenggara Timur, terutama Kota Kupang, hal itu berkesinambungan dengan Misi Walikota Kupang terkait meningkatkan daya saing ekonomi yang berbasis UMKM.
Menurutnya secara formal tuan rumah kegiatan adalah Provinsi NTT, tetapi lokus utamanya berada di Kota Kupang sebagai Ibu Kota Provinsi, sehingga menyiapkan seluruh dukungan dengan baik. Siapkan hotel-hotel, UMKM, pameran, gala dinner, dan bahkan festival drone untuk bangsa-bangsa kawasan Pasifik yang akan disaksikan pada tanggal 11 nanti. Malam ini menyiapkan gala dinner untuk menyambut para peserta dan pelaku budaya,” jelasnya.
Selain itu juga Walikota memperkenalkan kekayaan budaya, kuliner dan karakter masyarakat Kota Kupang kepada para peserta residency dari berbagai negara Pasifik. Ia menyebutkan ragam kuliner khas seperti jagung bose, ikan kuah asam dan se'i khas Kupang yang dibakar menggunakan daun kesambi. Selain itu juga kain tenun khas NTT sebagai warisan lintas generasi.
Walikota juga menegaskan bahwa budaya bukan hanya peninggalan masa lalu tetapi juga pinjaman dari anak cucu yang wajib dijaga untuk masa depan bersama. Menurutnya, event seperti ini bukan hanya memperkuat jejaring budaya Pasifik namun juga ikut memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah karena para tamu, pelaku seni, praktisi, akademisi dan peserta lintas negara yang hadir akan menggerakkan aktivitas perhotelan, restoran dan UMKM termasuk sektor souvenir.
Walikota kemudian mengangkat filosofi yang sering hidup dalam masyarakat kepulauan Pasifik bahwa laut bukan pemisah antarbangsa, tetapi justru menjadi jalan kasih, kebijaksanaan dan harapan yang menghubungkan kehidupan di seluruh kawasan Pasifik.
Dalam kesempatan tersebut Walikota menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang telah menunjuk Kota Kupang sebagai tuan rumah penyelenggaraan program residensi internasional ini. Ia menegaskan bahwa ini merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi Kota Kupang sebagai kota pulau dan salah satu pintu gerbang kawasan Nusa Tenggara.
“Terima kasih juga untuk Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang sudah mempercayakan Kota Kupang sebagai tuan rumah event besar. Hal ini merupakan sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi kami Kota Kupang. Selamat datang di Kupang City, Kota Pulau,” ungkap Wali Kota.
Direktur Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, menyampaikan bahwa cultural residency ini merupakan ruang dialog kreatif, pertukaran pengetahuan, eksplorasi artistik dan inovasi berbasis tradisi untuk memperkuat kolaborasi antar masyarakat budaya Indonesia-Pasifik menuju penyelenggaraan IPACS 2025 bertema Celebrating Shared Cultures and Community Wisdom. Program ini sekaligus menegaskan peran budaya sebagai jembatan diplomasi, perdamaian dan keberlanjutan antarbangsa.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan kurator dan pelaku seni musik, tari serta kriya bambu-kelapa dari berbagai negara di kawasan Pasifik dan Indonesia sebagai platform yang memperkuat jejaring kolaborasi, membangun pemahaman mendalam antar komunitas budaya dan melahirkan model residensi berkelanjutan lintas kawasan. Direktur juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang dan Pemerintah Provinsi NTT atas dukungan dan keramahtamahan dalam penyelenggaraan kegiatan internasional ini.
Turut hadir saat itu, Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Fryda Lucyana K., S.H., LL.M., bersama jajaran Kementerian, Direktur Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Mardisontori, S.Ag., LL.M., unsur Forkopimda Kota Kupang, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, S.H., para Asisten Sekda, para Kepala Perangkat Daerah, serta para Camat.(*).


Posting Komentar