Meninggalnya Siswa SD di Ngada Penuh Misteri, Polri Diminta Usut Tuntas

Berita-Cendana.Com- Kupang,- Siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur meninggal dengan penuh misteri. Siswa SD inisial YBR 10 tahun bagaimana bisa tahu membuat simpul tali pada leher dan memanjat pohon untuk melilit tali hingga mengakhiri hidupnya.

Demikian disampaikan oleh Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Nusa Tenggara Timur, Dr. Semuel Haning, SH., MH., C.ME,. C. Parb di Harper Kupang pada Sabtu, 7 Februari 2026 malam.

Meninggalnya YBR itu penuh dengan misteri dan pertanyaan mendalam, mengapa demikian,  tali yang digunakan untuk mengakhiri hidupnya itu tali milik siapa? Apakah Siswa SD kelas IV sudah ada pemikiran untuk membunuh diri. Bukannya  umur seperti itu selalu berpikir untuk mencari teman, mencari permainan untuk bermain, tanya Ketua PGRI NTT itu.

Siswa SD itu belum tentu melakukan bunuh diri karena simpul tali itu belum tentu dilakukan oleh dirinya, karena simpul yang mematikan bagi anak SD itu belum tentu, bagaimana cara YBR mengikat di lehernya kemudian memanjat pohon kemudian  mengikat tali pada pohon dengan kencang untuk bisa mengakhiri hidupnya, tanya lagi  Dr. Semuel Haning.

Kejanggalan lainnya bahwa YBR tidak memiliki buku dan pena untuk pergi ke sekolah, tetapi yang menjadi pertanyaan siapa yang menulis surat terakhir sebelum YBR meninggal, kalau tidak memiliki buku dan pena tetapi bisa menulis surat, ini yang perlu APH mendalami kejanggalan-kejanggalan ini, karena alasan tidak memiliki pena dan buku itu tidak masuk akal,  tegas Dr. Semuel Haning.

Ketua PGRI NTT meminta Kapolri, Kapolda NTT dan Kapolres Ngada untuk melakukan penyelidikan secara tuntas terkait kematian YBR karena peristiwa ini bukan soal miskin bahkan miskin ekstrim  yang telah diberitakan. Tetapi ini hal yang janggal karena anak SD itu belum tentu melakukan bunuh diri, jelasnya.

Ketika APH melakukan penyelidikan secara tuntas tentunya masyarakat puas tentang meninggalnya YBR, bahwa kematian YBR dilakukan oleh dirinya sendiri atau kematian dilakukan oleh orang lain, harapnya.

Ketua PGRI NTT juga menegaskan bahwa APH tidak melakukan penyelidikan dan investigasi mendalam terkait kasus ini, PGRI siap membentuk tim pencari fakta independen turun ke Ngada untuk melakukan investigasi supaya mengungkapkan kematian YBR. 

Diharapkan juga kasus ini tidak perlu menutup sebelum APH melakukan investigasi dan penyelidikan mendalam. Karena publik menunggu sejauh mana APH melakukan penyelidikan dan mencari fakta-fakta yang menyebabkan terjadinya YBR mengakhiri hidupnya, harap Ketua PGRI NTT itu. (*).


0/Komentar/Komentar

Lebih baru Lebih lama

Responsive Ad Slot

Responsive Ad Slot