Tangis Pilu Ayah Yerdi di Hadapan Kapolresta: Serahkan Nasib Kasus ke Polisi, Tuntut Keadilan dan Kebenaran

Berita-Cendana.Com – Kupang – Isak tangis memecah keheningan di halaman Mapolres Kupang Kota, Rabu, 20 Mei 2026. Lukas Beukliu, ayah kandung dari almarhumah Yerdi Efrosina Beukliu, tak mampu lagi menahan gejolak duka yang mendalam saat berhadapan langsung dengan Kapolres Kupang Kota, Kombes Pol Djoko Lestari. Di hadapan pimpinan kepolisian dan sejumlah pihak, tangisnya menjadi bukti nyata kepasrahan sekaligus harapan terakhir keluarga agar kebenaran di balik kematian misterius putrinya dapat terungkap.

Momen haru itu terjadi saat rombongan Kongres Advokat Indonesia (KAI) NTT, Fakultas Hukum UPG 1945 NTT, serta para mahasiswa mendatangi kantor polisi guna menanyakan perkembangan penanganan kasus kematian Yerdi, mahasiswi Program Studi Bahasa Indonesia yang ditemukan tewas penuh tanda tanya di kamar kosnya di wilayah Kelapa Lima.

Di tengah rasa kehilangan yang luar biasa, Lukas Beukliu dengan suara parau dan berlinang air mata menyerahkan nasib kasus ini sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Bagi beliau, kehilangan putri tercinta adalah pukulan terberat dalam hidup, namun mengetahui kebenaran adalah satu-satunya penawar luka yang diharapkan keluarga.

"Kasus ini kami serahkan secara utuh kepada Polres Kupang Kota. Kami pasrah, kami percaya Bapak Kapolres dan jajaran akan mengungkap siapa pelaku di balik kejadian ini," ucap Lukas di sela-sela isak tangisnya yang menyayat hati.

Piring Makan Berkurang, Hati Pun Retak: Tuntutan Satu Kata: Kebenaran

Lukas menceritakan kepedihan nyata yang kini dirasakan sehari-hari oleh seluruh anggota keluarga di rumah. Kepergian Yerdi bukan sekadar kehilangan sosok anak dan saudara, melainkan mengubah seluruh kebiasaan hidup mereka.

"Dalam Kartu Keluarga kami sekarang jumlahnya sudah berkurang. Saat makan bersama pun, jumlah piring di meja juga sudah berkurang. Itu semua adalah tanda nyata betapa besar kehilangan kami," ungkap Lukas dengan suara bergetar.

Namun, dibalik kesedihan itu, ada satu hal yang menjadi tujuan utama keluarga, bukan sekadar belas kasihan, melainkan keadilan. Lukas menegaskan, Yerdi adalah gadis yang sehat, ceria, dan tidak memiliki riwayat penyakit mematikan. Fakta ini yang membuat kematiannya semakin penuh misteri dan mustahil diterima akal sehat.

"Putri kami tidak memiliki riwayat penyakit serius yang bisa menyebabkan kematian mendadak seperti ini. Satu-satunya keluhan yang pernah ia sampaikan hanyalah sakit gigi ringan. Jadi, mohon kerja dengan bijak, teliti, dan tuntas. Kami ingin tahu apa penyebab utama kematian putri kami, dan siapa yang terlibat di baliknya," pinta Lukas memohon kepada Kapolres.

Pelukan Erat Kapolres: Simbol Dukungan dan Komitmen

Melihat kesedihan yang mendalam itu, Kombes Pol Djoko Lestari tak tinggal diam. Dengan sikap yang penuh empati dan kemanusiaan, Kapolres beranjak mendekat dan langsung memeluk erat Lukas Beukliu, seolah menguatkan hati bapak yang sedang hancur itu. Pelukan hangat itu menjadi simbol nyata bahwa pihak kepolisian berdiri bersama keluarga, berjanji tidak akan berhenti sebelum kebenaran terungkap.

Usai momen haru tersebut, Kapolres menegaskan komitmen keras institusinya. Ia menjamin bahwa penanganan kasus ini akan dilakukan secara profesional, transparan, dan tanpa pandang bulu.

"Kami berkomitmen kuat. Polres Kupang Kota tidak akan segan-segan mengungkap keterlibatan siapapun, baik itu pelaku utama maupun turut serta yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam peristiwa ini. Keadilan harus ditegakkan, dan kebenaran wajib diketahui keluarga serta masyarakat luas," tegas Kombes Pol Djoko Lestari.

Kehadiran organisasi advokat dan sivitas akademika UPG 1945 dalam pemantauan ini menjadi bentuk dukungan hukum dan moral, sekaligus memastikan bahwa proses hukum berjalan sesuai koridor yang benar demi menuntaskan misteri kematian Yerdi Efrosina Beukliu.(*).


0/Komentar/Komentar

Lebih baru Lebih lama

Responsive Ad Slot

Responsive Ad Slot